Vale (INCO) Siapkan USD9 Miliar untuk Hilirisasi Nikel & Bahan Baku Baterai EV

inco

RollingStock.ID – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengalokasikan dana investasi mencapai USD9 miliar untuk mengembangkan tiga proyek hilirisasi utama yang berfokus pada produksi material baterai kendaraan listrik, sebagai bagian dari transformasi bisnis menuju nikel kelas baterai di tengah perubahan tren industri baterai global.

Berdasarkan laporan Businesstimes.com.sg yang dikutip Selasa (17/2), manajemen INCO menilai bahwa baterai dengan kandungan nikel tinggi tetap memiliki prospek jangka panjang, terutama untuk kendaraan listrik berperforma tinggi yang membutuhkan kepadatan energi lebih besar.

Menurut Wakil Presiden Direktur INCO, Abu Ashar, baterai berbasis nikel tetap relevan, karena daya tahan dan siklus hidup yang lebih panjang. Sejumlah produsen otomotif besar, termasuk BYD pun masih memanfaatkan kombinasi baterai nikel dan lithium iron phosphate (LFP).

Vale Indonesia merupakan salah satu penambang nikel tertua di Indonesia yang saat ini memperluas portofolio produknya di tengah peningkatan penggunaan baterai berbasis lithium yang lebih murah dan dinilai lebih aman, terutama di pasar China.

International Energy Agency memperkirakan, baterai jenis ini telah menguasai hampir separuh pangsa pasar baterai kendaraan listrik global. Permintaan dari sektor kendaraan listrik dan penyimpanan energi diproyeksikan mendorong nilai pasar hingga USD160,3 miliar pada 2030, dengan produsen seperti BYD, Tesla dan Ford semakin mengadopsi teknologi baterai berbasis lithium.

Laporan Businesstimes.com.sg juga menyebutkan, sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia mendorong percepatan hilirisasi guna membangun rantai pasok baterai dan kendaraan listrik domestik. Sejak 2020, pemerintah melarang ekspor bijih nikel mentah untuk menjamin pasokan dalam negeri sekaligus menarik investasi asing.

Selama puluhan tahun INCO dikenal sebagai produsen nikel matte yang banyak digunakan dalam industri baja tahan karat. Wilayah operasinya mencakup lebih dari 118.000 hektare di Sulawesi, sehingga menjadikannya salah satu pemegang konsesi nikel terbesar di Indonesia.

Fasilitas Sorowako di Sulawesi Selatan secara historis memproduksi sekitar 70.000 ton nikel matte per tahun, yang seluruhnya diekspor ke Jepang melalui kontrak jangka panjang dengan Sumitomo Metal Mining dan Vale Japan. Dalam strategi pengembangan baterai, proyek utama berada di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, melalui pembangunan fasilitas high-pressure acid leach.

Pada Lokasi di Pomalaa, proyek senilai USD4,5 miliar tengah dikembangkan bersama Ford dan Zhejiang Huayou Cobalt dari China, sekaligus menjadi investasi langsung pertama Ford di Indonesia. Fasilitas ini dirancang untuk mengolah limonit, yaitu bijih nikel kadar rendah menjadi mixed hydroxide precipitate sebagai bahan baku baterai berbasis nikel, sedangkan saprolit tetap digunakan untuk produksi nikel matte.

Pabrik Pomalaa ditargetkan menghasilkan 120.000 ton mixed hydroxide precipitate per tahun dan dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial pada Kuartal IV-2026. Selain itu, proyek Bahodopi di Sulawesi Tengah mencakup investasi USD2 miliar untuk fasilitas high-pressure acid leach yang mampu mengolah 10,4 juta ton limonit per tahun berkapasitas produksi 66.000 ton mixed hydroxide precipitate per tahun.

Manajemen INCO menegaskan, proyek baterai tidak menggantikan produksi nikel matte, melainkan melengkapinya. Ke depan, satu operasi tambang diharapkan bisa menghasilkan dua produk sekaligus melalui pemanfaatan lapisan bijih berkadar rendah dan tinggi secara bersamaan.

Saat ini Vale Indonesia memegang izin usaha pertambangan khusus yang berlaku hingga 2035 dengan opsi perpanjangan selama sepuluh tahun. Pemerintah Indonesia berencana memperketat pasokan nikel mulai 2026 guna menopang harga. Produksi di Pomalaa dan Bahodopi akan dibatasi hingga 30 persen, sesuai kuota pemerintah untuk mengendalikan suplai, sedangkan produksi nikel matte di Sorowako tetap berjalan penuh.

Meski terdapat pembatasan, manajemen INCO menyebut bahwa mulai terlihat sinyal  pemulihan pasar dan perusahaan menargetkan optimalisasi kuota yang tersedia untuk menghasilkan nilai maksimal. Vale Indonesia menargetkan produksi 71.234 ton pada 2025 dan hingga November realisasinya mencapai 66.848 ton atau meningkat 3 persen secara tahunan, dengan total produksi melampaui ekspektasi.

Analis Macquarie memperkirakan, pemerintah Indonesia akan terus menyempurnakan kebijakan produksi untuk menjaga harga nikel di level USD18.000 per ton. Macquarie juga merevisi naik proyeksi harga rata-rata LME 2026 menjadi USD17.750 per ton dari sebelumnya USD15.000, dengan asumsi intervensi pemerintah bersifat signifikan dan berkelanjutan. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top