
RollingStock.ID – PT Samuel Sekuritas Indonesia mematok target harga (TP) yang bersifat agresif alias bull case pada saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) di level 80.000. Angka ini sekaligus mencerminkan potensi upside hingga mencapai 819,54 persen jika dibandingkan posisi saat ini (27/1) di level 8.700.
Mengacu pada hasil riset analis Samuel Sekuritas, Kenzie Keane dan Jonathan Guyadi yang dirilis Senin (26/1), keduanya menyampaikan bahwa penetapan target price tersebut didasari pada riset komprehensif yang menunjukkan prospek pertumbuhan RLCO berada pada fase flying high, seiring penguatan kinerja ekspor dan ekspansi produk berbasis sarang burung walet.
Tim riset Samuel Sekuritas menilai, RLCO berada pada posisi strategis untuk menikmati pertumbuhan pendapatan jangka menengah dengan estimasi compound annual growth rate (CAGR) pendapatan sebesar 21,5 persen di periode 2024-2027. Pertumbuhan ini didorong permintaan penguatan ekspor, terutama dari produk di segmen wellness dan makanan-minuman (F&B).
Pasar utama RLCO untuk produk ekspornya adalah China dan Hong Kong yang menyerap lebih dari 85 persen total permintaan ekspor. Sejauh ini, Indonesia memasok sekitar 58 persen kebutuhan sarang burung walet dunia, dengan tren konsumsi yang terus meningkat, sejalan dengan peningkatan kesadaran masyarakat global terhadap kesehatan.
Lebih lanjut tim riset menyebutkan, RLCO yang dipimpin Edwin Pranata sebagai pemilik sekaligus direktur utama, merupakan salah satu prosesor dan eksportir sarang burung walet terkemuka di Indonesia. Sejak 2016, emiten di bawah kendali PT Realco Omega Investama ini telah mengekspor produk sarang walet semi-proses melalui tiga merek utama, yakni Lion Nest, Jade Nest dan Crystal Nest yang diproduksi di Bojonegoro, Jawa Timur.
Fasilitas produksi yang modern milik RLCO dinilai memberikan keunggulan dari sisi skalabilitas dan pengendalian kualitas, sehingga mendukung keberlanjutan ekspansi pasar ekspor. Selain ekspor, Kenzie dan Jonathan juga menyoroti potensi pertumbuhan signifikan dari segmen produk konsumen RLCO di pasar domestik maupun internasional.
Produk berbasis sarang walet yang saat ini berkontribusi 15,9 persen terhadap total pendapatan tersebut diperkirakan bisa bertumbuh pesat, seiring dengan perkembangan pasar suplemen kesehatan dan makanan fungsional di Indonesia.
Nilai pasar suplemen makanan domestik mencapai USD3,24 miliar pada 2024 dan berpotensi meningkat menjadi USD4,72 miliar pada 2030. Menurut Tim Riset Samuel Sekuritas, RLCO memasarkan produk konsumen melalui merek Realfood dan Momiku, dengan portofolio yang mencakup bird nest jelly, minuman RTD dan RTE, minuman bubuk hingga inovasi berbasis protein alami, misalnya kolagen dan chicken broth.
Kinerja di segmen ini mulai tercermin pada pertumbuhan pendapatan, karena pada Januari-September 2025 jumlah pendapatan produk konsumen melonjak 48 persen secara tahunan menjadi Rp231 miliar. Kondisi ini didukung penetrasi pasar ekspor baru ke Thailand pada Kuartal IV-2025.
“Ke depan, Samuel Sekuritas memperkirakan bahwa ekspansi akan berlanjut ke Vietnam mulai 2026, serta potensi masuk ke pasar Amerika Serikat dan Filipina,” demikian disebutkan dalam hasil riset Kenzie dan Jonathan.
Pada sisi kinerja keuangan, lanjut mereka, RLCO diproyeksikan mencatatkan lonjakan laba bersih secara signifikan, yakni diperkirakan sebesar Rp35 miliar pada Tahun Buku 2025 dan berlanjut meningkat menjadi Rp77 miliar pada 2027, sejalan dengan pertumbuhan pendapatan dan peningkatan margin.
Adapun laba per saham (EPS) diperkirakan bakal meningkat dari Rp3,7 per lembar di 2024 menjadi Rp24,5 per saham pada 2027, dengan pertumbuhan EPS yang sangat kuat pada 2025.
Kenzie dan Jonathan menyampaikan, TP RLCO sebesar Rp80.000 per saham juga mempertimbangkan potensi peningkatan kapitalisasi pasar emiten ini dan peluang masuk ke indeks MSCI Indonesia. Mereka mengklaim, RLCO berpotensi memenuhi kriteria inklusi indeks MSCI, bahkan terbuka peluang untuk masuk ke MSCI Large Cap Index, jika terjadi penyesuaian kapitalisasi pasar hingga Rp50,1 triliun.
Namun demikian, riset yang dilakukan Kenzie dan Jonathan ini juga mencatat adanya risiko utama yang perlu dicermati investor, yakni potensi keterlambatan inklusi ke dalam indeks MSCI yang bisa menekan pergerakan harga saham dalam jangka pendek. (*)
Penulis: Satya Darmawan
Editor: Milva Sary
