
RollingStock.ID – Nilai tukar yen Jepang terjun bebas ke posisi terlemah terhadap dolar Amerika Serikat sejak Juli 2024, sehingga memicu kekhawatiran baru di pasar global bahwa kombinasi risiko politik dan kebijakan longgar di Tokyo bisa memperpanjang tekanan terhadap mata uang Negeri Sakura.
Berdasarkan laporan Reuters, yen melemah sebesar 0,6 persen ke level 159,11 per dolar AS pada perdagangan Selasa (13/1) atau Rabu (14/1) pagi WIB. Depresiasi yen tersebut memicu spekulasi bahwa ada peningkatan peluang intervensi pemerintah Jepang.
Pelemahan yen terjadi di tengah kabar bahwa Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi tengah mempertimbangkan pemilu parlemen lebih awal. Ketua partai mitra koalisinya, pada Minggu, menyebutkan pemungutan suara bisa digelar lebih cepat, setelah sejumlah media melaporkan kemungkinan pemilu pada Februari 2026.
Langkah tersebut dinilai berpotensi untuk dimanfaatkan Takaichi untuk mengamankan mandat politik baru, seiring tingkat dukungan publik yang relatif kuat sejak dia menjabat pada Oktober 2025.
Namun bagi pasar, skenario tersebut justru memperbesar kekhawatiran. “Implikasinya terhadap yen sangat negative, karena Takaichi terbilang dovish, baik dari sisi fiskal maupun moneter. Secara fiskal, dia cukup nyaman dengan kebijakan yang lebih longgar dan defisit yang lebih besar,” ujar analis Scotiabank, Eric Theoret di Toronto.
Menteri Keuangan, Satsuki Katayama menyuarakan bahwa dirinya dan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent memiliki pandangan yang sama terkait apa yang dia sebut sebagai depresiasi yen yang “satu arah”. Pernyataan itu disampaikan ketika Tokyo kembali meningkatkan sinyal ancaman intervensi untuk menahan laju kejatuhan yen.
Sementara itu, dolar AS secara umum menguat setelah sempat melemah sesaat. Data menunjukkan, inflasi konsumen AS pada Desember 2025 bergerak sesuai ekspektasi, sehingga akan memberi ruang lebih besar bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS naik 0,3 persen (m-t-m), dengan inflasi tahunan tercatat 2,7 persen. CPI inti naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan.
“Data hari ini semakin mendukung pandangan bahwa inflasi sedang bergerak menurun,” kata Kepala Ekonom Morningstar, Preston Caldwell, dalam catatannya. Sementara itu, Theoret menambahkan, reaksi pasar mencerminkan posisi trader yang sebelumnya bersiap menghadapi lonjakan inflasi lebih besar. “Ada kekhawatiran bahwa kita mungkin sudah mencapai titik terendah inflasi dalam jangka pendek. Banyak pelaku pasar tampaknya bersiap untuk kejutan ke arah sebaliknya,” ujar Theoret.
Kendati demikian, para pejabat The Fed kembali menegaskan, suku bunga perlu dipertahankan di level saat ini hingga terdapat bukti yang lebih jelas bahwa tekanan harga benar-benar mereda, sejalan dengan target inflasi 2 persen.
Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, termasuk yen dan euro mengalami kenaikan 0,28 persen ke level 99,15. Euro melemah 0,17 persen menjadi USD1,1647, sedangkan poundsterling menurun 0,23 persen ke USD1,3428. Dolar Australia terdepresiasi 0,45 persen ke level USD0,668, setelah sempat menguat usai rilis data inflasi AS.
Penguatan dolar juga ditopang data ketenagakerjaan AS yang solid pada Desember 2025, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan 27–28 Januari 2026. Berdasarkan pergerakan kontrak berjangka Fed funds, pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga baru terbuka pada Juni 2026.
Selain faktor ekonomi, pasar global juga sedang mencermati isu independensi The Fed setelah Departemen Kehakiman AS mengancam akan mendakwa Chairman The Fed, Jerome Powell terkait proyek renovasi gedung. Para pejabat bank sentral global pada Selasa mengeluarkan pernyataan bersama untuk mendukung Powell. Presiden AS, Donald Trump diperkirakan bakal mengumumkan calon pengganti Powell dalam beberapa pekan mendatang, menjelang berakhirnya masa jabatan Powell pada Mei 2026.
Ketegangan geopolitik juga membayangi pergerakan pasar, mulai dari penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro olehh AS, gelombang protes di Iran hingga pernyataan Trump mengenai keinginannya agar Amerika mengakuisisi Greenland. Para pelaku pasar juga menanti putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas kebijakan tarif Trump. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
