
RollingStock.ID – Sejumlah saham Asia mencetak penguatan pada Jumat (16/1) yang dipimpin sektor teknologi, setelah laporan kinerja solid produsen chip Taiwan TSMC kembali memicu optimisme terhadap tema kecerdasan buatan (AI).
Namun pada sisi lain, menurut laporan Reuters, pasar global menimbang sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang melonjak ke rekor tertinggi 761,53 poin, karena ditopang reli saham teknologi di Taiwan dan Korea Selatan yang sama-sama mencetak level tertinggi sepanjang masa (ATH).
Kinerja cemerlang TSMC menghidupkan kembali minat investor pada sejumlah saham bertema AI yang sebelumnya tertekan, seiring dengan kekhawatiran soal belanja modal global.
Pada perdagangan di Wall Street, penguatan saham teknologi dan keuangan pada perdagangan semalam mendorong sentimen positif ke Asia, dengan kontrak berjangka Nasdaq meningkat 0,4 persen dan S&P 500 menguat 0,3 persen. “Laporan TSMC yang solid dan bernada optimistis memberikan suntikan kepercayaan yang sangat dibutuhkan bagi saham-saham AI,” kata analis pasar IG, Tony Sycamore.
Kesepakatan dagang antara AS dan Taiwan yang dicapai kemarin (15/1) turut menopang sentimen, setelah memangkas tarif atas sejumlah ekspor semikonduktor Taiwan dan mengarahkan investasi baru ke industri teknologi AS. Langkah ini dinilai berpotensi memicu ketegangan dengan China. Pasar saham China terpantau melemah dan berisiko mengakhiri reli empat pekan beruntun, setelah regulator memperketat aturan pembiayaan margin, dengan indeks CSI300 menurun 0,34 persen.
Berbeda dengan kawasan lain, indeks Nikkei Jepang justru merosot 0,14 persen karena penguatan yen yang bangkit dari level terendah 18 bulan. Yen menjadi sorotan, setelah Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama menegaskan bahwa Tokyo tidak akan mengesampingkan opsi apa pun, termasuk intervensi terkoordinasi dengan AS.
Penguatan yen berlanjut setelah laporan Reuters menyebutkan sejumlah pembuat kebijakan Bank of Japan (BoJ) melihat peluang kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan pasar, dengan kondisi April 2026 menjadi skenario yang realistis. Yen terakhir menguat 0,2 persen ke level 158,36 per dolar AS.
Untuk pasar Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 menurun terbatas 0,3 persen dan FTSE terloreksi tipis 0,06 persen, menyusul reli saham Eropa ke rekor tertinggi sehari sebelumnya. Sementara itu, dolar AS bertahan mendekati level tertinggi enam pekan di tengah data ekonomi AS yang solid, termasuk penurunan yang tidak terduga pada klaim pengangguran baru. Terhadap sekeranjang mata uang, dolar berada di level 99,34 atau mendekati puncak di perdagangan Kamis (15/1) di posisi 99,493.
CME FedWatch menyebutkan, saat ini pasar memperkirakan peluang 67 persen bahwa Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga pada April 2026 atau meningkat tajam dari potensi 37% sebulan lalu. “Bukti semakin kuat dari pasar tenaga kerja yang stabil menurunkan peluang pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat,” kata ekonom senior Interactive Brokers, Jose Torres.
Pada pasar komoditas, harga minyak melanjutkan penurunan tajam setelah Presiden AS, Donald Trump mengambil sikap wait and see terkait kerusuhan di Iran, sehingga meredakan kekhawatiran gangguan pasokan. Minyak Brent menurun 0,19 persen ke USD63,64 per barel, sedangkan minyak mentah AS melemah 0,15 persen ke USD59,10 per barel. Aset safe haven juga tertekan, dengan emas spot menurun tipis 0,06 persen menjadi USD4.611,49 per ons. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
