
RollingStock.ID – Harga minyak dunia ambles pada perdagangan Kamis (15/1) atau Jumat (16/1) pagi WIB, sehingga mengakhiri reli lima hari berturut-turut, setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump meredakan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan aksi militer AS di Iran.
Berdasarkan laporan Reuters, minyak mentah berjangka Brent sebagai patokan internasional ditutup melorot USD2,76 atau 4,15 persen ke level USD63,76 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka WTI patokan AS anjlok USD2,83 atau 4,56 persen menjadi USD59,19 per barel, setelah kedua kontrak sebelumnya sempat melesat ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Tekanan jual dipicu komentar Trump yang menyatakan menerima laporan bahwa pembunuhan dalam penindakan protes di Iran mulai mereda dan tidak ada rencana untuk melakukan eksekusi massal, menandai sikap wait and see setelah sebelumnya melontarkan ancaman intervensi.
“Kita beralih dari probabilitas tinggi bahwa Trump akan menyerang Iran menjadi probabilitas yang rendah dan itu menjadi sumber utama tekanan penurunan harga minyak hari ini,” kata analis Price Futures Group, Phil Flynn.
Seorang pejabat AS juga menyebut Washington menarik sebagian personelnya dari pangkalan militer di Timur Tengah, di tengah peringatan Iran kepada negara-negara tetangga terkait potensi serangan balasan jika AS melancarkan agresi. Tekanan tambahan datang dari data Badan Informasi Energi (EIA) yang menunjukkan stok minyak mentah dan bensin AS pada pekan lalu melonjak lebih besar dari perkiraan analis.
Pada sisi pasokan global, Venezuela mulai membalikkan pemangkasan produksi yang sebelumnya dilakukan di bawah embargo AS, sementara itu ekspor minyaknya kembali berjalan, menurut tiga sumber. Sentimen pasar semakin negatif setelah percakapan telepon yang dinilai positif antara Trump dan Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez memunculkan ekspektasi peningkatan pasokan dalam beberapa pekan ke depan.
Untuk sisi permintaan, OPEC menyatakan pertumbuhan permintaan minyak global pada 2027 diperkirakan sejalan dengan tahun ini dan neraca pasar 2026 mendekati keseimbangan. Adapun data pemerintah China menunjukkan impor minyak mentah Desember 2025 melonjak 17 persen secara tahunan, dengan total impor sepanjang 2025 meningkat 4,4 persen dan volume harian mencetak rekor tertinggi. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary
