
RollingStock.ID – Harga emas terkoreksi akibat tekanan dari apresiasi dolar Amerika Serikat dan meredanya ketegangan geopolitik global, sehingga kondisi mengurangi daya tariknya sebagai aset safe haven.
Berdasarkan laporan Reuters dari Bengaluru, Kamis (15/1) atau Jumat (16/1) dini hari WIB, emas spot turun 0,1 persen ke level USD4.614,93 per ons pada pukul 01.30 WIB, setelah pada sesi sebelumnya mencetak rekor tertinggi USD4.642,72 per ons.
Pada pasar berjangka, emas AS untuk kontrak pengiriman Februari 2026 ditutup melemah 0,3 persen ke posisi USD4.623,70 per ons, seiring dangan sikap investor yang secara cermat mencerna data ekonomi terbaru dari AS.
Data menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran AS secara tak terduga menurun pada pekan lalu, sehingga memicu Indeks Dolar (DXY) melonjak ke level tertinggi sejak 2 Desember 2025. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar AS.
Vice President Zaner Metals, Peter Grant mengatakan, data tersebut menahan ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter Federal Reseve, setidaknya hingga paruh pertama tahun ini. Menurut dia, posisi dolar yang menguat menjadi tekanan jangka pendek bagi harga emas.
Sentimen pasar juga dipengaruhi pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang menegaskan bahwa tidak berencana memecat Chairman The Fed, Jerome Powell, meski ada penyelidikan kriminal Departemen Kehakiman. The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Januari menadatang.
Selain itu, Trump menyatakan telah menerima laporan bahwa aksi kekerasan dalam penindakan demonstrasi di Iran mulai mereda, mengindikasikan pendekatan wait and see dan menurunkan risiko geopolitik. Grant menilai, kondisi ini sedikit menekan emas, namun dia melihat pelemahan harga bersifat koreksi dan berpotensi dimanfaatkan pelaku pasar sebagai peluang beli. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary
