Gangguan Ladang Kazakhstan Katrol Harga Minyak, Isu Tarif Trump Tetap Hantui Pasar

minyak
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga minyak dunia menguat pada perdagangan setelah gangguan pasokan dari Kazakhstan memicu kekhawatiran berkurangnya aliran minyak global, walaupun sentimen pasar tetap dibayangi ancaman tarif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terhadap negara-negara Eropa.

Berdasarkan laporan Reuters, di New York, Selasa (20/1) atau Rabu (21/1) pagi WIB, minyak mentah berjangka Brent ditutup melonjak 98 sen atau 1,53 persen menjadi USD64,92 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka WTI patokan AS untuk kontrak Februari 2026 —yang berakhir Selasa— menguat 90 sen atau 1,51 persen ke level USD60,34 per barel. Kontrak WTI yang lebih aktif diperdagangkan untuk pengiriman Maret meningkat USD1,02 atau 1,72 persen menjadi USD60,36 per barel.

Penguatan harga dipicu penghentian sementara produksi di ladang minyak Tengiz dan Korolev di Kazakhstan. Operator ladang tersebut, Tengizchevroil yang dipimpin oleh Chevron, pada Senin menyatakan telah menghentikan sementara produksi akibat gangguan pada sistem distribusi listrik.

Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Reuters pada Selasa, bahwa ladang Tengiz berpotensi berhenti operasinal selama tujuh hingga 10 hari ke depan. Dengan demikian, kondisi ini memangkas ekspor minyak mentah melalui Caspian Pipeline Consortium.

“Tengiz merupakan salah satu ladang minyak terbesar di dunia, sehingga gangguan ini jelas berdampak signifikan terhadap aliran minyak mentah,” ujar Director of Energy and Refining ICIS, Ajay Parmar. Namun dia menilai, gangguan tersebut bersifat sementara dan memperingatkan bahwa retorika tarif berpotensi menekan harga ke depan.

Pada sisi permintaan, pasar juga mendapat dukungan dari data produk domestik bruto China untuk Kuartal IV-2025 yang lebih baik dari perkiraan. Analis IG, Tony Sycamore mengatakan, ketahanan ekonomi importir minyak terbesar dunia itu memperkuat sentimen permintaan. Data menunjukkan, ekonomi China bertumbuh 5 persen di sepanjang 2025, sedangkan throughput kilang pada tahun lalu meningkat 4,1 persen secara tahunan dan produksi minyak mentah meningkat 1,5 persen.

“Harga minyak turut terkatrol revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini oleh International Monetary Fund serta penguatan harga solar,” sebut analis PVM. Pelemahan dolar AS juga menopang harga, karena membuat pembelian minyak berdenominasi greenback lebih murah bagi negara pengimpor.

Meski demikian, kekhawatiran akan kembali terjadinya perang dagang membatasi penguatan harga. Trump pada akhir pekan lalu menyatakan mau memberlakukan tarif tambahan 10 persen mulai 1 Februari 2026 terhadap barang impor dari sejumlah negara Uni Eropa —Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Swedia dan Belanda— serta Inggris dan Norwegia. Tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25 persen pada 1 Juni2026, jika tidak tercapai kesepakatan terkait Greenland. Menurut Parmar, ancaman tarif tersebut berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global dan pada akhirnya mengurangi permintaan minyak.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Selasa kemarin mengatakan European Commission sedang menyiapkan paket dukungan untuk keamanan kawasan Arktik dan menilai kebijakan tarif tersebut sebagai sebuah kesalahan. (*)

Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top