CPO Bangkit Usai Terperosok 3 Hari, Pasar Menahan Napas Tunggu Data Ekspor

sawit
Ilustrasi – (Foto: RollingStock)

RollingStock.ID – Harga minyak sawit mentah atau (CPO) berjangka Malaysia akhirnya memutus tren penurunan tiga sesi berturut-turut, lantaran terdorong lonjakan minyak kedelai di bursa Dalian dan Chicago. Namun, reli ini masih dibayangi kehati-hatian pelaku pasar yang menunggu rilis data ekspor terbaru sebagai penentu arah.

Berdasarkan laporan Reuters dari Jakarta, Rabu (25/2), kontrak CPO pengiriman Mei 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (MDEX) mengalami kenaikan 0,47 persen menjadi 4.072 ringgit per metrik ton pada jeda tengah hari. Kenaikan ini mencerminkan respons cepat pasar terhadap sentimen eksternal, sekaligus aksi bargain buying setelah harga terperosok dalam beberapa hari terakhir.

Seorang trader di Kuala Lumpur menyebut, penguatan itu sebagai kombinasi efek limpahan dari pasar minyak nabati global dan aksi bargain buying. Namun ruang kenaikan dinilai terbatas, karena ringgit diperdagangkan mendekati level terkuatnya sejak April 2018. Mata uang yang digunakan dalam transaksi minyak sawit ini memang stabil terhadap dolar AS, tetapi tetap berada di sekitar posisi tertingginya, sehingga mengurangi daya saing harga bagi pembeli asing.

Pada pasar regional, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian melonjak 1,25 persen, sementara itu kontrak minyak sawit di bursa yang sama justru melorot 0,72 persen. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai menguat 0,46 persen. Secara historis, CPO bergerak seirama dengan minyak nabati pesaing, karena seluruhnya bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar global.

Kedelai Chicago mendekati level tertinggi tiga bulan setelah optimisme terhadap permintaan China yang meningkat. Pernyataan otoritas Beijing yang meredakan kekhawatiran atas kebijakan tarif Amerika Serikat yang memberi angin segar bagi prospek perdagangan komoditas tersebut.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia bertahan di dekat level tertinggi tujuh bulan. Ancaman potensi konflik militer antara AS dan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan, meskipun kedua pihak sudah menjadwalkan untuk menggelar perundingan. Kenaikan minyak mentah ini secara tidak langsung meningkatkan daya tarik sawit sebagai bahan baku biodiesel, memperkuat sentimen positif di pasar CPO.

Kendati demikian, secara teknikal terdapat sinyal bahwa harga berpotensi kembali terkoreksi menuju 3.999 ringgit per ton, usai menembus level support 4.064 ringgit. Dengan kombinasi sentimen global yang fluktuatif dan penantian data ekspor periode 1-25 Februari 2026 yang diperkirakan melemah, arah pergerakan CPO dalam waktu dekat akan sangat ditentukan respons pasar terhadap angka-angka tersebut. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top