Tembaga Dekati Rekor Baru, Sinyal Restocking China & Ramalan Citi Panaskan Pasar

tembaga
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga tembaga semakin memanas dan mendekati level tertinggi dalam dua pekan terakhir, karena didorong gelombang optimisme pasar atas potensi lonjakan permintaan dari China pasca libur panjang Tahun Baru Imlek. Aktivitas restocking yang mulai terlihat setelah pelaku industri kembali beroperasi menjadi katalis utama penguatan harga.

Berdasarkan laporan Reuters dari Beijing, Rabu (25/2), kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange ditutup menguat 0,84 persen ke posisi 102.460 yuan atau senilai USD14.918,25 per metrik ton. Pada awal sesi, harga bahkan sempat menyentuh 102.780 yuan atau level tertinggi sejak 12 Februari 2026 dan sekaligus mempertegas momentum beli yang mulai terbentuk.

Untuk pasar global, kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) juga menunjukkan akselerasi. Hingga pukul 14.00 WIB, harga melonjak 0,93 persen menjadi USD13.288,50 per ton, setelah sempat menyentuh USD13.308,5 dan juga merupakan titik tertinggi sejak 12 Februari 2026. Pergerakan seirama di dua bursa utama ini mencerminkan sentimen positif yang meluas, bukan sekadar reli teknikal jangka pendek.

Pada Selasa kemarin, Citigroup memproyeksikan, harga tembaga bisa menembus USD14.000 per ton dalam tiga bulan ke depan, lantaran ditopang ekspektasi permintaan yang lebih solid dari China dan aksi beli investor. Analis Citi menilai, meski arah harga belum sepenuhnya pasti, risiko jangka pendek condong menuju kenaikan, karena strategi buying on dip dan restocking pasca Imlek berpotensi menjadi penopang harga.

Indikator fisik pun turut memberi sinyal serupa, tercermin dari premi tembaga Yangshan —yang merefleksikan minat China terhadap impor— terpantau melonjak 60 persen menjadi USD53 per ton pada Selasa. Lonjakan premi ini kerap dibaca sebagai tanda meningkatnya kebutuhan pasokan riil di pasar domestik China.

Namun, reli harga tidak sepenuhnya tanpa bayang-bayang risiko. Stok tembaga di gudang terdaftar LME tercatat mencapai 243.175 ton atau level tertinggi sejak Maret 2025. Sepanjang tahun ini, persediaan tersebut sudah melambung 71 persen, menjadi faktor penyeimbang yang dapat membatasi ruang kenaikan jika permintaan tidak tumbuh sekuat ekspektasi.

Selain tembaga, timah menjadi bintang utama dengan lonjakan signifikan, terbukti dari kontrak timah menjadi paling aktif di Shanghai alias melesat 7,62 persen menjadi 416.760 yuan per ton, sementara itu kontrak tiga bulan di LME melonjak 5,27 persen ke USD52.950 per ton. Kenaikan tajam ini dipicu kekhawatiran pasokan setelah Indonesia yang merupakan produsen utama timah untuk industri soldering, berencana melarang ekspor sejumlah bahan mentah termasuk timah.

Logam dasar lain di Shanghai juga mencatat pergerakan variatif, seperti aluminium meningkat 0,57 persen, timbal menguat 0,06 persen, nikel melonjak 2,32 persen, sedangkan seng terkoreksi tipis 0,04 persen. Di kompleks LME, aluminium menguat 1,15 persen, seng meningkat 0,68 persen, timbal mengalami kenaikan 0,64 persen dan nikel melesat 1,04 persen. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top