
RollingStock.ID – Pemerintah Indonesia kembali masuk ke pasar obligasi yuan offshore pada Rabu 25 Februari 2026 atau hanya empat bulan setelah debut perdananya. Langkah pemerintah ini dilakukan di tengah meningkatnya sorotan terhadap defisit fiskal domestik.
Beradarkan laporan Bloomberg upaya pemerintah Indonesia tersebut bukan sekadar aksi pembiayaan rutin, melainkan sinyal strategis bahwa otoritas fiskal memilih memanfaatkan biaya pinjaman yuan yang sedang berada di level sangat rendah, sekaligus menjaga fleksibilitas pendanaan saat sentimen global terhadap aset Indonesia bergejolak.
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, pemerintah menargetkan penerbitan berukuran benchmark dalam tiga tenor, yakni tiga tahun, lima tahun dan sepuluh tahun. Selain itu, opsi penerbitan surat utang berdenominasi euro juga sedang disiapkan sebagai tahap lanjutan. Total potensi dana yang dihimpun dari obligasi yuan dan euro diperkirakan mencapai USD3 miliar-USD4 miliar.
Mengutip laporan Bloomberg, sebagian dana hasil penawaran surat utang tersebut akan dialokasikan untuk refinancing surat utang yang jatuh tempo tahun ini, sedangkan sisanya akan dimanfaatkan untuk menopang kebutuhan pembiayaan anggaran yang tetap ekspansif.
Kembalinya Indonesia ke pasar dim sum bond terjadi ketika kekhawatiran atas kesehatan fiskal mulai menguat. Defisit anggaran pada Januari 2026 —yang relatif jarang terjadi pada awal tahun— mencerminkan percepatan belanja pemerintah untuk mendorong pertumbuhan. Pada saat yang sama, tekanan pasar sempat meningkat, setelah Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dengan alasan risiko stabilitas fiskal yang membesar.
Dalam konteks ini, penerbitan obligasi yuan offshore dapat dibaca sebagai upaya taktis memanfaatkan arbitrase biaya dana. Suku bunga yuan offshore yang rendah memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengunci pendanaan dengan kupon kompetitif, sekaligus memperluas basis investor di luar pasar dolar Amerika Serikat.
Pada penerbitan perdananya empat bulan lalu, Indonesia berhasil menghimpun 6 miliar yuan. Saat ini dengan kondisi likuiditas yuan global yang longgar, momentum tersebut kembali dimanfaatkan pemerintah Indonesia. Penerbitan dim sum bond secara global memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir, seiring dorongan internasionalisasi yuan olehh pemerintah China.
Ketegangan perdagangan dan dinamika kebijakan tarif pada era Presiden AS, Donald Trump sebelumnya turut mengurangi dominasi aset berbasis dolar dalam portofolio global tertentu, membuka ruang bagi mata uang alternatif. Dengan strategi ini, Indonesia bukan cuma memburu biaya dana yang efisien, melainkan juga mengirim pesan bahwa diversifikasi sumber pembiayaan tetap menjadi pilar utama manajemen utang di tengah tekanan fiskal yang belum sepenuhnya mereda. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
