Emas Stabil, Minyak Melemah dan Yen Menguat di Tengah Negosiasi AS-Iran

emas2
Ilustrasi – (Foto: RollingStock)

RollingStock.ID – Harga emas relatif stabil, seiring pelaku pasar masih menunggu perkembangan putaran ketiga perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa.

Berdasarkan laporan Reuters dari Bengaluru, Kamis (26/2) atau Jumat (27/2) dini hari WIB, emas spot tercatat di USD5.168,72 per ons pada pukul 01.37 WIB, sementara itu emas berjangka AS kontrak April 2026 ditutup menurun 0,6 persen menjadi USD5.194,20 per ons.

Analis forex.com, Razan Hilal menyatakan, emas dan perak sedang mencoba menembus level resistance masing-masing di USD5.200 dan USD90, namun belum mampu mempertahankan penguatan, sehingga meningkatkan risiko koreksi apabila kesepakatan geopolitik tercapai dalam waktu dekat.

Vice President Zaner Metals, Peter Grant mengatakan, pasar memberi perhatian besar terhadap hasil perundingan tersebut, meski ketidakpastian global masih tinggi. Dia memproyeksikan, harga emas berpotensi meningkat ke kisaran USD5.340,72-USD5.400 per ons. Logam mulia lain melemah, dengan perak menurun 2,5 persen ke USD87,14 per ons, platinum merosot 2,2 persen ke USD2.236,37 dan paladium melemah 1,9 persen ke USD1.761,05.

Pada pasar energi, harga minyak melemah usai sesi yang bergejolak, karena investor mencermati negosiasi nuklir AS-Iran. “Minyak mentah berjangka Brent ditutup menurun 0,14 persen menjadi USD70,75 per barel, sedangkan WTI melemah 0,32 persen ke USD65,21 per barel,” menurut Reuters dari Houston, Kamis (26/2) atau Jumat (27/2) pagi WIB.

Sepanjang sesi, harga sempat melonjak lebih dari USD1 per barel, setelah laporan media menyebut pembicaraan mengalami kebuntuan akibat tuntutan AS agar Iran menghentikan pengayaan uranium dan menyerahkan cadangan uranium dengan tingkat pengayaan 60 persen.

Namun harga kembali melemah usai kedua negara sepakat melanjutkan dialog pekan depan. Wakil Presiden Rystad Energy, Janiv Shah menilai, perpanjangan negosiasi menurunkan premi risiko geopolitik. Sementara itu pelaku pasar menyebut pelemahan lebih dipicu sentiment, ketimbang perubahan fundamental pasokan yang masih berlimpah, termasuk potensi kenaikan produksi OPEC+ dan peningkatan ekspor Iran.

Untuk pasar valuta asing, yen Jepang menguat setelah Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda mengisyaratkan kenaikan suku bunga lanjutan akan bergantung pada data ekonomi. Yen tercatat meningkat 0,12 persen menjadi 156,15 per dolar AS, setelah sempat menyentuh 156,82 pada sesi sebelumnya, demikian laporan Reuters dari New York. Ueda menegaskan, suku bunga akan terus dinaikkan apabila pertumbuhan dan inflasi sesuai proyeksi, meski laporan sebelumnya menyebutkan bahwa Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi menyampaikan sikap kehati-hatian terkait tambahan kenaikan suku bunga.

Indeks Dolar AS (DXY) meningkat 0,18 persen ke 97,79, sedangkan euro menurun 0,11 persen menjadi USD1,1796. Pelaku pasar juga mencermati rencana kenaikan tarif impor AS menjadi 15 persen atau lebih dari sebelumnya 10 persen sebagaimana disampaikan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer.

Data menunjukkan, klaim pengangguran AS meningkat tipis dan tingkat pengangguran relatif stabil pada Februari 2026, sementara itu The Fed diperkirakan memangkas suku bunga dua kali di sepanjang 2026. Ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter global tetap menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan emas, minyak maupun yen. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top