
RollingStock.ID – Harga minyak, emas dan nilai tukar dolar Amerika Serikat bergerak terbatas di tengah ketidakpastian konflik antara AS-Iran dan arah kebijakan moneter global. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang menyebut konflik akan berakhir telah menjadi sentimen positif, namun risiko gangguan pasokan energi dan ketidakpastian negosiasi membuat pelaku pasar wait and see.
Berdasarkan laporan Reuters di New York, Rabu (15/4) atau Kamis (16/4) pagi WIB, minyak mentah berjangka Brent yang merupakan patokan internasional, ditutup meningkat 0,1 persen menjadi USD94,93 per barel. Sementara itu patokan AS, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) hampir tidak berubah di posisi USD91,29 per barel.
Gangguan di Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama, karena jalur ini menangani 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Empat puluh lima hari usai Garda Revolusi Iran menutup jalur, lalu lintas kapal masih jauh di bawah normal yang sebelumnya lebih dari 130 pelayaran per hari. Sejumlah analis memperkirakan, total kehilangan pasokan minyak mentah dan kondensat dari Timur Tengah telah mencapai 496 juta barel.
Sejauh ini AS tetap menekan Iran dengan pembatasan ekspor dan tidak memperpanjang pengecualian sanksi. Pada sisi pasokan, data menunjukkan stok minyak mentah AS menurun 0,9 juta barel pada pekan yang berakhir 10 April 2026, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan 0,15 juta barel dan lonjakan 6,1 juta barel versi American Petroleum Institute. Kondisi ini menjaga premi risiko di pasar energi meskipun kekhawatiran gangguan total mulai mereda.
Untuk pasar logam mulia, harga emas spot menurun 0,9 persen menjadi USD4.798,89 per ons setelah sempat mencapai level tertinggi sejak 18 Maret 2026 dan emas berjangka AS melemah 0,5 persen ke USD4.823,60 per ons, demikian dilaporan Reuters. Logam lain bergerak variatif dengan perak merosot 0,2 persen ke USD79,40, platinum meningkat 0,8 persen menjadi USD2.119,52 dan paladium merosot 1,1 persen ke USD1.570,10 per ons.
Tekanan terhadap emas dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. The Fed diperkirakan dapat menunda pemangkasan suku bunga hingga 2027, jika inflasi tidak kembali ke target 2 persen akibat lonjakan harga energi. Saat ini peluang pemangkasan suku bunga pada 2026 diperkirakan hanya 32 persen.
Di pasar mata uang, indeks dolar AS (DXY) melemah 0,01 persen ke 98,06 setelah sempat menyentuh 98,286 dan terendah di 98,005. Euro menguat 0,03 persen ke USD1,1799, dolar alias naik 0,18 persen terhadap yen ke 159,05, sedangkan poundsterling naik 0,06 persen menjadi USD1,3572. Data ekonomi menunjukkan harga impor AS naik 0,8 persen pada Maret 2026, setelah revisi 0,9 persen pada Februari atau lebih rendah dari perkiraan 2 persen, dengan kenaikan tahunan sebesar 2,1 persen.
Secara keseluruhan, konflik sejak 28 Februari 2026 terus menekan stabilitas market global. Gangguan energi memicu kekhawatiran inflasi dan perlambatan ekonomi, sementara itu upaya diplomatik yang melibatkan berbagai pihak belum memberikan kepastian arah, demikian disebutkan Reuters.
Saat ini para pelaku pasar mencermati perkembangan negosiasi, sekaligus dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan kebijakan global, termasuk potensi kebutuhan pembiayaan baru maupun inisiatif seperti rencana dukungan energi senilai USD10 miliar di Asia. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
