
RollingStock.ID – PT Singaraja Putra Tbk (SINI) berencana melaksanakan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PM-HMETD) yang berpotensi meraup Rp3,6 triliun, dengan sebagian besar uangnya akan digunakan untuk mendanai pengambilalihan PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PT Petrosea Tbk (PTRO) serta memperbaiki struktur keuangan yang menderita defisiensi modal.
Berdasarkan keterangan resmi SINI tertanggal 16 April 2026, emiten milik pengusaha Prajogo Pangestu dan Happy Hapsoro ini akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 721,5 juta saham baru benilai nominal Rp100 per saham. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, sehingga dana yang dihimpun bakal mencapai Rp3,607 triliun.
Dana hasil rights issue tersebut tidak hanya dialokasikan untuk mengakuisisi KMS, tetapi juga untuk pembayaran lebih awal sebagian utang kepada kreditur dan memenuhi kebutuhan modal kerja.
Manajemen SINI menyebutkan, aksi korporasi tersebut berkaitan langsung dengan rencana pengambilalihan 507.380.875 saham KMS atau setara 99,995 persen yang saat ini dimiliki PTRO, dengan nilai transaksi sebesar Rp1,73 triliun sebagaimana tercantum dalam perjanjian jual beli bersyarat yang ditandatangani pada 15 April 2026.
Nilai transaksi tersebut setara dengan 110,27 persen dari total aset SINI, sehingga hal ini dikategorikan sebagai transaksi yang bersifat material dan wajib mendapatkan persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Rencana ini juga tergolong transaksi afiliasi, karena adanya hubungan pengendalian antar-pihak.
Emiten yang terafiliasi dengan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melalui PT Kreasi Jasa Persada ini menjadwalkan RUPS pada 26 Mei 2026 untuk meminta persetujuan atas rencana rights issue tersebut. Langkah selanjutnya, tentu SINI akan mengajukan pernyataan pendaftaran kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan pelaksanaan PM-HMETD dilakukan setelah mendapat restu otoritas dan selama kurun paling lama 12 bulan sejak persetujuan RUPS.
Secara proforma, pelaksanaan rights issue emiten yang terkait dengan jaringan bisnis Barito Group ini diproyeksikan bisa mengubah struktur keuangan SINI secara signifikan. Kas dan setara kas diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp1,39 triliun, sementara itu total aset meningkat menjadi Rp3,99 triliun.
Ekuitas yang sebelumnya negatif (defisiensi modal) sebesar Rp687,4 miliar per 31 Maret 2026, bisa berbalik menjadi positif Rp1,54 triliun. Rasio liabilitas terhadap aset menurun dari 1,44 kali menjadi 0,62 kali, yang menunjukkan penurunan tingkat leverage berbasis aset, kendati rasio liabilitas terhadap ekuitas menjadi 1,6 kali seiring perubahan posisi ekuitas menjadi positif.
Patut dicatat, pelaksanaan rights issue ini juga membawa konsekuensi dilusi yang signifikan bagi pemegang saham yang tidak menebus haknya. Kepemilikan pemegang saham lama akan terdilusi secara proporsional, jika tidak berpartisipasi dalam pembelian saham baru yang diterbitkan SINI.
Dari sisi strategi, pengambilalihan KMS diposisikan sebagai langkah ekspansi untuk memperkuat portofolio bisnis SINI di sektor pertambangan batubara. Perseroan menilai, prospek industri masih positif, lantaran didorong permintaan global yang tetap tinggi, khususnya dari kawasan Asia yang tetap bergantung pada pembangkit listrik berbasis batubara.
Namun, struktur transaksi menunjukkan bahwa PM-HMETD tidak semata-mata ditujukan untuk ekspansi, melainkan juga untuk restrukturisasi keuangan melalui peningkatan likuiditas dan perbaikan posisi ekuitas. Hal ini mengindikasikan bahwa keberhasilan aksi korporasi ini tidak hanya bergantung pada realisasi akuisisi KMS, tetapi juga pada kemampuan SINI dalam mengoptimalkan penggunaan dana serta meningkatkan kinerja operasional pasca rights issue.
Setelah pengambilalihan selesai, KMS akan menjadi entitas anak yang hampir sepenuhnya dimiliki perseroan, memperkuat posisi SINI sebagai perusahaan holding dengan eksposur yang lebih besar pada sektor batubara. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi pendapatan, namun tetap menyisakan tantangan eksekusi dan integrasi bisnis ke depan. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
