
RollingStock.ID – Sepanjang 2025, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) mencatatkan rugi bersih Rp366,05 miliar atau menurun 54,1 persen dibandingkan dengan rugi bersih di Tahun Buku 2024 yang mencapai Rp796,71 miliar, namun perbaikan ini lebih ditopang ditopang faktor non-operasional.
Berdasarkan laporan keuangan FAST untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, emiten kongsian dua konglomerat Anthoni Salim dan Ricardo Gelael ini membukukan pendapatan Rp4,881 triliun atau meningkat tipis 0,1 persen dari Rp4,875 triliun pada 2024.
Di tengah kenaikan pendapatan yang terbatas itu, beban pokok penjualan KFC di 2025 bisa ditekan 2 persen (year-on-year) menjadi Rp1,99 triliun, sehingga laba bruto pada tahun lalu menjadi Rp2,89 triliun atau meningkat 1,6 persen dibandingkan sepanjang 2024 yang senilai Rp2,84 triliun.
Pada periode Januari-Desember 2025, rugi usaha FAST tercatat Rp311,66 miliar atau membaik 60,2 persen (y-o-y). Sementara itu, rugi sebelum pajak penghasilan senili Rp397,55 miliar atau lebih rendah 53,9 persen dibandingkan rugi sebelum pajak di periode Januari-Desember 2024 yang sebesar Rp862,56 miliar.
Dengan adanya manfaat pajak penghasilan di 2025 sebesar Rp28,3 miliar, maka rugi tahun berjalan yang dicatatkan FAST menjadi Rp369,24 miliar alias membaik 53,7 persen (y-o-y). Adapun besaran rugi yang diatribusikan ke pemilik entitas induk untuk Tahun Buku 2025 sebesar Rp366,05 miliar.
Akibat adanya rugi bersih Rp366,05 miliar, maka akumulasi kerugian (defisit) FAST per 31 Desember 2025 menjadi Rp507,63 miliar atau membengkak 241,1 persen dibandingkan defisit per 31 Desember 2024 yang sebesar Rp148,82 miliar. Kondisi ini sekaligus mencerminkan rugi historis yang masih menekan struktur permodalan.
Per 31 Desember 2025, jumlah ekuitas emiten di bawah kendali PT Gelael Pratama dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) tercatat Rp435,86 miliar atau melambung 241,3 persen (y-o-y), terutama dipicu surplus revaluasi tanah sebesar Rp535,68 miliar.
Hingga akhir 2025, total liabilitas sebesar Rp4,51 triliun atau melonjak 32,7 persen (y-o-y). Maka, total aset per 31 Desember 2025 menjadi Rp4,95 triliun atau mengalami kenaikan 40,2 persen (y-o-y), dengan jumlah kas dan setara kas sebesar Rp147,22 miliar atau melambung 127,1 persen dibandingkan per 31 Desember 2024 yang senilai Rp64,83 miliar.
Apabila mengacu pada cash flow FAST di periode Januari-Desember 2025, lonjakan kas tersebut terutama berasal dari arus kas bersih dari aktivitas pendanaan sebesar Rp898,23 miliar, termasuk penerimaan utang bank jangka pendek dan panjang, serta penerbitan saham. Sementara itu, arus kas operasi hanya menghasilkan Rp203,92 miliar dan perseroan mengeluarkan kas untuk aktivitas investasi sebesar Rp1,02 triliun. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
