
RollingStock.ID – Kinerja keuangan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) pada Kuartal I-2026 menunjukkan adanya tekanan, tercermin dari total aset yang menurun, dana pihak ketiga (DPK) menyusut 3,2 persen (year-to-date) dan arus kas operasi tercatat negatif Rp21,48 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan BTN untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, total aset bank BUMN ini tercatat Rp517,54 triliun atau menurun 1,9 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 dan DPK terpantau menyusut 3,2 persen (y-t-d) menjadi Rp392,57 triliun.
Bahkan arus kas operasi di periode Januari-Maret 2026 tercatat negatif mencapai Rp21,48 triliun atau lebih tinggi dibandingkan dengan periode Januari-Maret 2025 yang mencatatkan arus kas bersih digunakan untuk aktivitas operasi senilai Rp817,2 miliar.
Penurunan DPK BBTN tersebut terutama berasal dari deposito berjangka per 31 Maret 2026 yang merosot 6,2 persen menjadi Rp188,61 triliun dari Rp201,12 triliun per 31 Desember 2025. Selain itu dibarengi pula penurunan simpanan dari bank lain, sehingga secara keseluruhan mencerminkan adanya tekanan pada penghimpunan dana selama periode berjalan.
Pada sisi intermediasi, penyaluran kredit (bruto) per 31 Maret 2026 mengalami penurunan 0,5 persen (y-t-d) menjadi Rp344,12 triliun. Sehingga dengan DPK yang menurun, rasio kredit terhadap DPK secara indikatif berada pada level tinggi yang mencerminkan ruang likuiditas semakin terbatas.
Tekanan paling signifikan terlihat pada arus kas selama kurun tiga bulan pertama di 2026, dengan arus kas operasi negatif Rp21,48 triliun. Ditambah lagi dengan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi mencapai Rp4,56 triliun atau membengkak dibandingkan tiga bulan pertama di 2025 senilai Rp793,25 miliar.
Sementara itu, arus kas pendanaan hanya menghasilkan arus masuk Rp3,59 triliun, sehingga per 31 Maret 2026 jumlah kas dan setara kas emiten yang dipimpin Nixon LP Napitupulu sebagai direktur utama ini anjlok 43,7 persen menjadi Rp28,95 triliun dari Rp51,4 triliun per 31 Desember 2025.
Penurunan kas tersebut juga tercermin dari penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain dengan jatuh tempo tiga bulan atau kurang yang tercatat ambles 94,9 persen dari Rp13,61 triliun menjadi Rp689 miliar, sehingga menunjukkan berkurangnya cadangan likuiditas jangka pendek secara signifikan.
Dari sisi profitabilitas, laba tahun berjalan di Kuartal I-2026 sebesar Rp1,1 triliun atau meningkat 21,7 persen dari Rp903,71 miliar pada Kuartal I-2025. Adapun besaran laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk di 1Q26 juga Rp1,1 triliun atau bertumbuh 21,7 persen (y-o-y).
Namun demikian, komprehensif justru tercatat melorot hingga 42,1 persen dari Rp965,54 miliar menjadi Rp558,78 miliar akibat pengaruh kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar Efek dan obligasi pemerintah.
Selama tiga bulan pertama tahun ini, pendapatan bunga dan bagi hasil tercatat Rp8,01 triliun, dengan beban bunga Rp3,77 triliun. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih (NII) Rp4,24 triliun yang meningkat dari Rp3,78 triliun pada tiga bulan pertama di 2025.
Pada sisi lain, beban operasional lainnya tetap tinggi sebesar Rp2,92 triliun alias membengkak 8,9 persen (y-o-y) dan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar Rp14,1 triliun, mencerminkan risiko kredit yang perlu dikelola secara prudent. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
