
RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama tahun ini, PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) membukukan laba bersih Rp11,63 miliar atau meroket 10.590,4 persen dibandingkan periode sama di 2025 senilai Rp108,81 juta. Namun, arus kas operasi tercatat negatif akibat tingginya pembayaran kepada pemasok, karyawan dan pajak.
Berdasarkan laporan keuangan TEBE untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, emiten milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam ini mencatatkan pendapatan Rp85,03 miliar atau bertumbuh 19,3 persen dibandingkan Kuartal I-2025 sebesar Rp71,28 miliar.
Seiring dengan pertumbuhan revenue tersebut, beban pokok pendapatan tercatat meningkat 10 persen (year-on-year) menjadi Rp70,85 miliar. Dengan demikian, laba bruto emiten di bawah kendali PT Dua Samudera Perkasa ini membukukan laba bruto Rp14,17 miliar melambung 106,2 persen (y-o-y).
Pada periode Januari-Maret 2026, TEBE berhasil meraih laba usaha Rp9,04 miliar atau berbanding terbalik dengan periode Januari-Maret 2025 yang menderita rugi usaha Rp3,33 miliar. Sementara itu, laba sebelum pajak di 1Q26 tercatat Rp13,67 miliar atau melesat 9.312,4 persen dibandingkan 1Q25 senilai Rp145,3 juta.
Dengan adanya beban pajak (neto) di 1Q26 sebesar Rp2 miliar, maka laba periode berjalan yang dicatatkan TEBE menjadi Rp11,67 miliar atau melangit 11.839,1 persen (y-o-y). Adapun besaran laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk di Kuartal I-2026 sebesar Rp11,63 miliar atau meroket 10.590,4 persen (y-o-y).
Meski laba meningkat tajam, namun di periode Januari-Maret 2026 perseroan mencatatkan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi Rp26,14 miliar atau lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 yang mengeluarkan kas untuk operasi sebesar Rp6,62 miliar.
Kondisi arus kas operasi yang negatif tersebut dikarenakan adanya pembayaran kepada pemasok mencapai Rp74,70 miliar dan pembayaran kepada karyawan sebesar Rp13,65 miliar, serta pembayaran pajak penghasilan senilai Rp9,36 miliar. Kondisi ini sekaligus mencerminkan bahwa laba akuntansi TEBE belum sepenuhnya terealisasi menjadi arus kas masuk.
Modal kerja TEBE juga ikut menyerap likuiditas, tampak dari piutang usaha pihak ketiga di 1Q26 meningkat 45,8 persen menjadi Rp32,67 miliar dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp22,41 miliar. Persediaan pun tercatat mengalami kenaikan 22,9 persen (year-to-date) menjadi Rp11,29 miliar.
Pada catatan laporan keuangan disebutkan bahwa TEBE mulai memperkuat infrastruktur bisnis pelabuhan melalui entitas anak, PT Pelabuhan Talenta Bumi (PTB). Hal ini tercermin dari penempatan rekening bank yang dibatasi penggunaannya sebesar Rp31,5 miliar pada Kuartal I-2026. PTB memperoleh izin operasi terminal umum pada Januari 2026 dan sebelumnya juga mendapatkan penunjukan untuk melaksanakan kegiatan pengusahaan di Terminal Pelabuhan Talenta Bumi di Pelabuhan Banjarmasin.
Dari sisi posisi keuangan, jumlah ekuitas TEBE per 31 Maret 2026 tercatat Rp1,24 triliun atau bertumbuh 1 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp1,23 triliun. Hingga akhir Kuartal I-2026, total liabilitas terpantaun bisa ditekan 24,1 persen (y-t-d) menjadi Rp48,39 miliar, namun masih didominasi kewajiban jangka pendek menjadi Rp38,13 miliar.
Per 31 Maret 2026, total aset emiten milik investor individu Pang Gerald dan Yong Poh Choo ini mencapai Rp1,29 triliun atau menurun 0,3 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas tersisa Rp594,98 miliar atau mengalami penurunan 8,7 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp651,56 miliar. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary
