Nominal NPF Bengkak Jadi Rp5,89 Triliun, CKPN BSI (BRIS) di 1Q26 Melonjak 45,2%

bris
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI/BRIS) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Pada Kuartal I-2026, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) alias BSI mencatatkan kenaikan nominal pembiayaan bermasalah (NPF) bruto, seiring kenaikan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), penurunan ekuitas dan kenaikan liabilitas kepada Bank Indonesia.

Berdasarkan laporan keuangan BSI untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, total NPF bruto BRIS membengkak menjadi Rp5,89 triliun, dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar Rp5,75 triliun. Namun, rasio NPF bruto per akhir Kuartal I-2026 tercatat menurun tipis menjadi 1,8 persen dari 1,81 persen pada akhir 2025.

Sementara itu, rasio NPF neto membaik menjadi 0,38 persen dari sebelumnya 0,47 persen, sedangkan total nominal NPF neto per 31 Maret 2026 tercatat menurun 15,4 persen menjadi Rp1,26 triliun dari Rp1,49 triliun pada akhir 2025.

NPF bruto piutang mengalami kenaikan 1,6 persen (year-to-date) menjadi Rp3,72 triliun dari Rp3,66 triliun, sedangkan NPF bruto pembiayaan musyarakah meningkat sebesar 4,5 persen (y-t-d) menjadi Rp1,86 triliun dari Rp1,78 triliun per 31 Desember 2025.

Di tengah kenaikan nominal NPF tersebut, per 31 Maret 2026 perseroan mencatat lonjakan pencadangan, tercermin dari cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) piutang melejit 45,2 persen (y-t-d) menjadi Rp6,62 triliun. Adapun CKPN pembiayaan hingga akhir Kuartal I-2026 tercatat meningkat 33,1 persen (y-t-d) menjadi Rp7,55 triliun.

Per 31 Maret 2026, jumlah pembiayaan BRIS tercatat Rp151,72 triliun atau mengalami kenaikan 2,7 persen dibandingkan dengan jumlah pembiayaan per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp147,76 triliun.

Pada sisi income statement, BRIS membukukan laba bersih Rp2,2 triliun pada Kuartal I-2026 atau bertumbuh 17,1 persen dibandingkan dengan Kuartal I-2025 yang senilai Rp1,88 triliun. Hak bagi hasil milik BSI di periode Januari-Maret 2026 tercatat meningkat 12,8 persen (y-o-y) menjadi Rp4,98 triliun.

Selama tiga bulan pertama tahun ini, BSI mencatatkan hak pihak ketiga atas bagi hasil mengalami penurunan 11,3 persen menjadi Rp2,06 triliun dari Rp2,32 triliun pada tiga bulan pertama 2025.  Jumlah pendapatan usaha lainnya di 1Q26 tercatat Rp2,1 triliun atau melompat 22,8 persen (y-o-y).

Pada periode Januari-Maret 2026, BRIS membukukan laba usaha Rp2,9 triliun alias  meningkat 16,8 persen (y-o-y), sedangkan laba sebelum zakat dan beban pajak meningkat 16,8 persen menjadi Rp2,9 triliun dibandingkan periode Januari-Maret 2025 senilai Rp2,49 triliun.

Kendati laba bersih mengalami kenaikan, jumlah ekuitas BSI per 31 Maret 2026 tercatat menurun 2,3 persen (y-t-d) menjadi Rp50,77 triliun. Penurunan ini dipengaruhi rugi belum direalisasi atas surat berharga yang diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain (FVOCI), yang berubah menjadi rugi Rp39,45 miliar dari sebelumnya mencatat keuntungan Rp332,56 miliar per akhir 2025.

Per 31 Maret 2026, total aset perseroan mencapai Rp460,13 triliun atau lebih tinggi 0,9 persen (y-t-d), sedangkan jumlah liabilitas tercatat Rp109,52 triliun atau meningkat 4,4 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp104,93 triliun.

Total simpanan wadiah hingga akhir Kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp89,02 triliun atau merosot 2,3 persen (y-t-d), dengan total giro, tabungan dan deposito mudharabah tercatat sebesar Rp288,31 triliun atau lebih rendah 0,6 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 mencapai Rp290,14 triliun.

Pada akhir Kuartal I-2026, BSI mencatat liabilitas kepada Bank Indonesia sebesar Rp8,31 triliun, padahal per 31 Desember 2025 tercatat nihil. Dalam laporan arus kas, selama tiga bulan pertama di 2026 perseroan menerima pinjaman dari Bank Indonesia sebesar Rp9,29 triliun.

Untuk periode Januari-Maret 2026, BRIS mencatatkan arus kas bersih dari aktivitas operasi yang masih negatif Rp19,72 triliun, meskipun membaik 2,3 persen dibandingkan negatif Rp20,17 triliun di periode yang sama 2025. Posisi kas BSI per akhir Kuartal I-2026 tercatat Rp9,26 triliun atau bertumbuh 6,5 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp8,69 triliun. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top