
RollingStock.ID – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di Malaysia melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan hari ini, sekaligus mencatat kenaikan harian terbesar sejak akhir Maret 2026. Lonjakan ini dipicu penguatan harga minyak mentah dunia, kenaikan harga minyak nabati pesaing dan depresiasi nilai tukar ringgit yang meningkatkan daya tarik sawit Malaysia di pasar ekspor.
Berdasarkan laporan Reuters di Jakarta, Senin (18/5), kontrak acuan CPO untuk pengiriman Agustus 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMD) meningkat 2,1 persen menjadi 4.530 ringgit per metrik ton, setara USD1.139,62 per ton pada jeda perdagangan siang.
Penguatan tersebut sekaligus memperpanjang reli untuk hari kedua berturut-turut, setelah pada pekan lalu kontrak sawit masih tertekan dan mengalami penurunan 1,89 persen, serta mencatatkan pelemahan mingguan ketiga secara beruntun.
Seorang trader di Kuala Lumpur mengatakan, penguatan harga minyak mentah global, kenaikan harga soyoil di Chicago dan depresiasi ringgit menjadi katalis utama penguatan pasar sawit. Selain itu, pasar juga mengalami technical rebound setelah tekanan harga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan harga minyak mentah dunia terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Upaya mengakhiri perang Iran dinilai masih menemui jalan buntu, setelah ada laporan penyerangan fasilitas pembangkit listrik nuklir di Uni Emirat Arab.
Pada sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump disebut-sebut akan membahas opsi militer terhadap Iran, sehingga semakin meningkatkan kekhawatiran pasar energi global. Reli minyak mentah turut mengangkat prospek permintaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, karena menjadi alternatif yang lebih kompetitif dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.
Di pasar komoditas lain, kontrak minyak sawit paling aktif di Dalian menguat 1,26 persen, sedangkan kontrak minyak kedelai atau soyoil di bursa yang sama melemah tipis 0,07 persen. Adapun harga soyoil di Chicago melonjak 1,14 persen. Pergerakan harga minyak sawit umumnya mengikuti arah minyak nabati pesaing, sebab saling bersaing dalam perebutan pangsa pasar minyak nabati global.
Dari sisi kebijakan, Malaysia menetapkan harga acuan CPO untuk periode Juni 2026 di level yang mempertahankan bea ekspor sebesar 10 persen. Sementara itu, data perusahaan inspeksi AmSpec Agri Malaysia menunjukkan bahwa ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1-15 Mei 2026 diperkirakan merosot 16,5 persen dibandingkan sebulan sebelumnya. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
