
RollingStock.ID – Pada sesi pertama transaksi hari ini (18/5), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 6.470 atau ambles 3,76 persen dibandingkan saat penutupan pekan lalu (13/5) pada level 6.723. Bahkan di paruh pertama perdagangan hari ini Indeks sempat menyentuh level 6.398 alias nyungsep 4,83 persen.
Saat pembukaan perdagangan hari ini, IHSG terpantau langsung melanjutkan tren bearish hingga merangsek ke posisi 6.628 alias terkoreksi 1,41 persen. Tidak berselang lama, pola chart terus menukik ke selatan hingga menyentuh level terendah di sesi pagi 6.398, meski akhirnya ditutup pada level 6.470.
Sepanjang Sesi I perdagangan di awal pekan ini, nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp11,96 triliun dan volume transaksi sebanyak 21,56 miliar saham. Sebanyak 682 saham tercatat menurun dan hanya 84 saham yang mampu menguat.
Dengan posisi IHSG di level 6.470, maka nilai kapitalisasi pasar (market cap) BEI tersisa Rp11.366,88 triliun atau anjlok dibandingkan saat penutupan perdagangan di pekan lalu yang sebesar Rp11.825 triliun. Pelemahan pasar saham ini mencerminkan adanya kondisi panic selling di tengah aksi investor asing yang melanjutkan aksi jual.
Sejak awal tahun ini hingga akhir pekan lalu, investor asing sudah melakukan aksi jual bersih di pasar saham Indonesia mencapai Rp40,82 triliun. Jika mengacu pada data perdagangan di pekan lalu (11-13 Mei 2026), net foreign sell sebesar Rp3,21 triliun lebih terkonsentrasi pada sejumlah saham yang terdampak MSCI deletion dan sektor perbankan besar.
Pada sesi pertama perdagangan hari ini, saham BBCA terpantau melorot 2,46 persen ke level 5.950, BBRI anjlok 2,88 persen ke posisi 3.030, BMRI tercatat merosot 2,14 persen ke level 4.110 dan BBNI terperosok 2,84 persen ke posisi 3.760. Selain itu, pemberat IHSG di sesi pagi juga dipengaruhi saham DCII (-2,83%), BREN (-1,88%), BYAN (-3,79%) dan TPIA (-14,88%).
Menurut Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi dalam keteranganya yang diedarkan Senin (18/5), pergerakan pasar saham Indonesia pada pekan ini (18-22 Mei 2026) tetap dibayangi sentimen implementasi MSCI Rebalancing menjelang effective date pada 29 Mei 2026. Selain itu, kata dia, volatilitas akan tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang kerap menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global.
“IPOT melihat tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural. Dengan pertumbuhan GDP Indonesia Kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61 persen, pasar domestik sebenarnya masih memiliki fondasi fundamental yang cukup resilien,” papar Imam. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
