
RollingStock.ID – Rencana ekspansi PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) ke bisnis Liquefied Natural Gas (LNG) menyimpan sejumlah tantangan dan risiko, lantaram pengembangan proyek LNG Karawang menghadapi sejumlah persoalan mulai dari keterlambatan proyek, risiko wanprestasi, minimnya pengalaman operasional hingga perizinan belum tuntas.
Berdasarkan keterangan resmi CGAS kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipublikasikan Sabtu (23/5), manajemen perseroan mengakui bahwa target pembangunan stasiun LNG sebelumnya tidak tercapai. Keterlambatan ini dipicu proses penerbitan alokasi gas dari Kementerian ESDM yang mempengaruhi keseluruhan tahapan pengembangan proyek.
Emiten di bawah kendali PT Petro Asia Energy menyampaikan, kepastian alokasi gas tersebut menjadi aspek utama, karena berkaitan langsung dengan pasokan bahan baku bagi operasional fasilitas LNG. Dampak keterlambatan tersebut tidak hanya menyentuh sisi operasional, tetapi juga dapat mempengaruhi kondisi keuangan CGAS.
Dalam penjelasannya, manajemen mengungkapkan adanya potensi berkurangnya pendapatan akibat mundurnya operasional komersial dan penjualan LNG. Selain itu, terdapat pul kemungkinan munculnya kewajiban pembayaran denda atau penalti terkait komitmen penyerapan gas dan risiko keterlambatan pembayaran kepada kontraktor proyek LNG Karawang, Jawa Barat.
Lebih lanjut manajemen CGAS mengakui, ada potensi kondisi yang dapat dikategorikan sebagai wanprestasi. Risiko ini antara lain berkaitan dengan belum terpenuhinya komitmen penyerapan dan monetisasi gas alam milik PT Pertamina EP dan belum terpenuhinya target pekerjaan sebagaimana diatur dalam perjanjian kerjasama pembangunan LNG Karawang.
CGAS mengungkapkan, penambahan kegiatan usaha melalui KBLI 35201 memiliki urgensi tinggi, karena tanpa penambahan ini perseroan berpotensi tidak bisa merealisasikan pengembangan kegiatan usaha LNG di Karawang. Proyek ini disebut telah mendapatkan alokasi gas bumi dari Kementerian ESDM, sedangkan progres pembangunan fasilitas pendukung sudah mencapai 70 persen.
Pada sisi lain, pengembangan LNG merupakan area usaha baru bagi CGAS yang harus dikembangkan, walaupun perseroan belum memiliki pengalaman dan portofolio operasional secara langsung pada bisnis LNG. Manajemen menyatakan, proyek tersebut didukung Greenfir melalui PT GT Ladang Teknologi selaku manufaktur utama peralatan dan proses LNG.
Ketergantungan terhadap pihak eksternal juga terlihat dari proyek pembangunan LNG Station. Dalam rincian penggunaan dana, proyek Engineering, Procurement, Construction, Commissioning (EPCC) LNG Station senilai Rp143,8 miliar dikerjakan PT GT Ladang Teknik. Perusahaan yang sama juga mengerjakan Detail Engineering Design (DED) dan pembangunan kantor proyek.
Selain itu, sejumlah izin utama juga belum didapatkan CGAS yang saat ini baru mengantongi persetujuan alokasi gas bumi dari Kementerian ESDM. Sementara itu, izin usaha pengolahan gas alam masih berproses dan baru akan diurus setelah penerbitan KBLI terkait kegiatan LNG emiten yang sahamnya dimiliki investor individu Ilham Maggri dan Purwoko ini.
Manajemen CGAS mengaku, kesiapan sumber daya manusia juga terbilang terbatas, karena sebelumnya perseroan menyampaikan bahwa kebutuhan tenaga kerja operasional LNG mencapai 42 orang, namun hingga saat ini baru merekrut satu karyawan baru untuk fungsi Health, Safety and Environment (HSE).
Dari sisi komersial, emiten yang sahamnya juga dipegang investor individu R Hari Prabowo dan Quwawmoon ini menghadapi tantangan lain terkai pengembangan pasar LNG itu sendiri, karena saat ini target pasarnya mayoritas merupakan pelanggan industri yang menggunakan LPG. Manajemen CGAS menargetkan stasiun LNG CGAS bisa beroperasi secara komersial pada Kuartal IV-2026. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
