
RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama tahun ini, PT Link Net Tbk (LINK) menderita rugi bersih Rp436,92 miliar atau membengkak 23,1 persen dibandingkan dengan rugi bersih di Kuartal I-2025 yang senilai Rp354,93 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan LINK untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, emiten di bawah kendali Axiata Investments (Indonesia) Sdn Bhd hanya mampu meraih pendapatan Rp661,36 miliar alias melorot 18,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 sebesar Rp810,28 miliar.
Sejalan dengan pelemahan omzet tersebut, rugi sebelum pajak penghasilan yang dicatatkan LINK pada Kuartal I-2026 meningkat sebesar 23,2 persen (year-on-year) menjadi Rp442,51 miliar. Kenaikan kerugian ini terutama dipicu beban penyusutan, penurunan nilai dan amortisasi di 1Q26 yang membengkak 8,3 persen (y-o-y) menjadi Rp450,87 miliar.
Di tengah tekanan tersebut, emiten yang terafilasi dengan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) ini bisa membukukan manfaat pajak penghasilan di Kuartal I-2026 sebesar Rp5,59 miliar, sehingga rugi tahun berjalan di 1Q26 menjadi Rp436,92 miliar atau lebih tinggi 23,1 persen (y-o-y).
Adapun besaran rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk selama tiga bulan pertama tahun ini juga sebesar Rp436,92 miliar alias membengkak 23,1 persen dibandingkan dengan rugi bersih di periode yang sama 2025 sebesar Rp354,93 miliar.
Per 31 Maret 2026, Linknet hanya memiliki saldo laba yang belum dicadangkan senilai Rp41,67 miliar atau ambles 91 persen dibandingkan dengan saldo laba per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp463,95 miliar. Jumlah ekuitas hingga akhir Kuartal I-2026 tercatat Rp3,14 triliun atau menyusut 11,7 persen (year-to-date).
Pada akhir Maret tahun ini, total liabilitas emiten yang sahamnya juga dimiliki Maybank Securities Pte Ltd dan RHB Investment Bank Berhad ini mencapai Rp10,53 triliun atau membengkak 8,7 persen (y-t-d), yang didominasi kewajiban jangka pendek sebesar Rp9,31 triliun.
Per 31 Maret 2026, aset perseroan sebesar Rp13,67 triliun atau lebih tinggi 3,3 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas tercatat Rp488,6 miliar atau mengalami kenaikan 35,4 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 senilai Rp360,96 miliar.
Apabila mengacu pada cash flow di periode Januari-Maret 2026, kenaikan kas tersebut terutama disebabkan adanya arus kas bersih yang dihasilkan dari aktivitas pendanaan sebesar Rp880,52 miliar, khususnya berasal dari penerimaan utang yang mencapai Rp1,67 triliun.
Pada sisi lain, arus kas dari aktivitas operasi justru berbalik menjadi negatif Rp568,75 miliar, dibandingkan dengan periode Januari-Maret 2025 yang bisa menghasilkan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp428,63 miliar. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
