
RollingStock.ID – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menyampaikan bahwa perseroan akan lebih agresif memperkuat bisnis infrastruktur digital dan teknologi sebagai salah satu pilar pertumbuhan utama. Segmen ini menjadi kontributor pendapatan yang semakin signifikan di tengah upaya diversifikasi usaha dari sektor pertambangan.
Berdasarkan keterangan dalam materi Public Expose DSSA, Selasa (9/6), emiten milik Sinar Mas Group ini menyebutkan bahwa kontribusi segmen infrastruktur digital dan teknologi terhadap pendapatan konsolidasi meningkat menjadi 7,6 persen pada 2025, dibandingkan 4,8 persen di 2024. Peningkatan ini terjadi ketika kontribusi bisnis pertambangan menurun akibat normalisasi harga batubara global.
Manajemen DSSA mengungkapkan, mengembangkan bisnis digital melalui dua entitas utama, yakni PT Eka Mas Republik (MyRepublic) dan PT SMPlus Digital Investama, dengan kepemilikan efektif masing-masing 99,9 persen. Jaringan layanan keduanya telah menjangkau 162 kota dan kabupaten, serta 24 kota di Indonesia.
Salah satu langkah strategis DSSA adalah pengembangan bisnis data center (pusat data). Pada Juli 2025, melalui entitas anaknya, perseroan menjalin kemitraan strategis dengan KIRA SG One Pte Ltd, yang merupakan bagian dari Korea Investment Real Asset Management Co Ltd. Kerjasama ini untuk mengembangkan layanan data center berstandar internasional di Indonesia dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan.
Proyek Metro Data Center tersebut, saat ini masih dalam tahap konstruksi. Fasilitas yang berlokasi di kawasan pusat bisnis Jakarta ini dirancang memiliki kapasitas awal IT Load mencapai 18 megawatt yang dapat ditingkatkan hingga 60 megawatt dan ditargetkan mulai beroperasi pada Semester II-2026.
Lebih lanjut menajemen DSSA menyebutkan, prospek bisnis pusat data di Indonesia semakin menjanjikan seiring meningkatnya migrasi sistem perusahaan dari infrastruktur on-premise menuju cloud dan hybrid cloud, kebutuhan pemenuhan regulasi kedaulatan data, serta ekspansi jaringan 5G yang mendorong kebutuhan komputasi edge dan aplikasi berlatensi rendah.
Selain itu, proyek data center DSSA memiliki sejumlah keunggulan kompetitif, antara lain lokasi strategis di kawasan CBD Jakarta dengan latensi rendah menuju pusat keuangan, ketersediaan daya listrik besar untuk mendukung beban kerja AI dan machine learning, serta dukungan LG CNS Co Ltd yang saat ini mengoperasikan dan mengembangkan lebih dari 600 MW kapasitas pusat data di Korea Selatan.
Pada sisi konektivitas, DSSA juga memperkuat bisnis fiber to the home (FTTH) dan backbone melalui penggabungan usaha antara PT Eka Mas Republik dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA). Adapun entitas hasil penggabungan bernama PT Ekamas Mora Republik Tbk dengan kode saham tetap MORA. Merger ini mengombinasikan jaringan backbone serat optik milik MORA dengan kekuatan layanan FTTH MyRepublic.
Pasca-merger, entitas gabungan diproyeksikan memiliki lebih dari 116 ribu kilometer jaringan kabel serat optik, lebih dari 11,6 juta homepass dan lebih dari 2,2 juta pelanggan. DSSA meyakini, sinergi tersebut akan menghadirkan layanan yang lebih stabil dan cepat, memperluas jangkauan jaringan, memperkuat posisi kompetitif perusahaan, sekaligus mendukung pemerataan infrastruktur digital nasional.
Untuk 2026, DSSA menargetkan kontribusi segmen infrastruktur digital dan teknologi meningkat menjadi 19 persen dari total pendapatan perseroan. Strategi yang ditempuh meliputi penguatan infrastruktur, peningkatan kapasitas dan kualitas layanan, serta pembangunan ekosistem digital terintegrasi melalui realisasi penggabungan usaha, investasi dan belanja modal secara berkelanjutan. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
