
RollingStock.ID – PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) membuka peluang untuk kembali bekerja sama dengan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) alias MoraRepublic pada proyek kabel laut berikutnya, setelah berhasil mengembangkan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) RISING-8. Manajemen Triasmitra menegaskan, kendati terjadi perubahan manajemen di MORA, namun tidak menutup kemungkinan adanya kolaborasi lanjutan.
Pada laporan hasil Public Expose KETR yang dipublikasikan BEI di Jakarta, Selasa (23/6), Direksi Triasmitra menjelaskan bahwa proyek Rising-8 merupakan investasi bersama dengan MoraRepublic dengan skema pembagian investasi dan komersialisasi sebesar 50:50. Manajemen mengaku, hubungan kerjasama tersebut masih terbuka untuk proyek-proyek berikutnya.
Manajemen KETR menyampaikan, model bisnis penjualan kapasitas kabel laut menggunakan skema Indefeasible Right of Use (IRU) selama 15 tahun. Melalui skema ini, pelanggan mendapatkan hak penggunaan kabel dalam jangka panjang, sedangkan KETR tetap memperoleh pendapatan dari layanan pemeliharaan yang dikenakan setiap tahun selama masa kontrak berlangsung. Perseroan menyebut usia teknis kabel mencapai 25 tahun.
Lebih lanjut Direksi KETR mengungkapkan, mengacu pada pengalaman pembangunan kabel laut sebelumnya, proses utilisasi seluruh kapasitas kabel umumnya memerlukan waktu tiga hingga lima tahun. Namun pada proyek JAYABAYA yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya, seluruh kapasitas berhasil terjual dalam waktu tiga tahun, karena kualitas dan keamanan jaringan yang dinilai memenuhi ekspektasi pelanggan.
Bahkan sebelum RISING-8 mencapai status Ready for Service (RFS), sudah terdapat pelanggan yang menyatakan minat untuk membeli kapasitas kabel tersebut. Selain itu, lanjut Direksi Triasmitra, saat ini terdapat tiga calon pelanggan yang sedang dalam proses finalisasi kerjasama.
Terkait kapasitas yang tersedia, Direksi KETR mengaku bahwa dari total 16 fiber pair pada proyek Rising-8, sebanyak lima fiber pair sudah terjual kepada pelanggan dan 11 fiber pair lainnya masih dalam tahap pembahasan dengan calon pembeli. Perseroan menegaskan, seluruh kapasitas kabel dijual tanpa menyediakan kabel cadangan, karena seluruh sistem menggunakan konsep bundled cable.
Mengenai potensi masuknya Grup Sinar Mas sebagai pengendali baru melalui voluntary tender offer (VTO), manajemen KETR menilai perubahan tersebut lebih merupakan transaksi di tingkat pemegang saham dan tidak mengubah model bisnis perseroan. Direksi menegaskan, pihaknya tetap menjaga posisi independen dan tidak membedakan perlakuan terhadap pelanggan, termasuk jika terdapat entitas dalam Sinar Mas Group yang menjadi pengguna layanan perseroan di masa mendatang.
Pada kesempatan yang sama, KETR mengungkapkan bahwa nilai investasi proyek Rising-8 mencapai USD55 juta hingga USD60 juta. Manajemen menjelaskan, arus kas pada Kuartal I-2026 terlihat lebih rendah, karena tingginya kebutuhan pembayaran proyek dan kewajiban pinjaman, yang sekaligus dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan pemberi pinjaman.
Sementara itu, perihal proyek Sistem Komunikasi Kabel Laut Merindo, KETR mengungkapkan target operasional penuh (RFS) mundur hingga akhir 2027, sehingga kontribusi pendapatan baru diharapkan mulai terlihat pada 2028. Menurut manajemen, keputusan tersebut diambil karena perseroan memandang Merindo sebagai investasi jangka panjang dan tidak ingin memaksakan pembangunan di tengah kondisi geopolitik global yang bergejolak.
Manajemen KETR memandang bahwa peluang pengembangan bisnis infrastruktur digital tetap terbuka, termasuk pengembangan jaringan fiber optik dan pusat data. Keberadaan data center di Tanjung Pakis yang berkembang menjadi pusat data berskala internasional menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek tersebut.
Terkait kelanjutan pengembangan segmen Batam-Singapura, KETR menyatakan bahwa proyek tersebut akan diserahkan kepada MoraRepublic, karena segmen tersebut merupakan bagian dari ekosistem MORA. Kendati demikian, perseroan memastikan kapasitas jaringan yang tersedia masih cukup untuk melayani kebutuhan pelanggan dan mendukung pengembangan segmen Jakarta-Batam yang pembangunannya sudah rampung. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
