
RollingStock.ID – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan menghimpun dana Rp4,77 triliun melalui skema Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu V (PM-HMETD V) alias rights issue. Namun lebih dari 90 persen dana yang diperoleh bukan untuk ekspansi, melainkan untuk membayar utang anak usaha.
Berdasarkan Prospektus rights issue BNBR yang diterbitkan di Jakarta, Rabu (1/7), perusahaan holding multi-sektor ini menawarkan sebanyak 89.919.839.078 saham baru Seri E dengan harga pelaksanaan Rp53 per lembar. Sehingga, perseroan berpotensi meraup uang dari investor sebesar Rp4,77 triliun.
Dari jumlah tersebut, sebesar Rp4,36 triliun atau lebih dari 91 persen akan dimanfaatkan untuk memberikan pinjaman kepada PT Bakrie Toll Indonesia (BTI) yang merupakan anak usaha BNBR. Selanjutnya, BTI akan memakai dana itu untuk melunasi seluruh pokok pinjaman kepada Hartman International Pte Ltd sebesar Rp3,66 triliun dan seluruh pokok utang kepada PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) senilai Rp700 miliar.
Sementara itu, hanya Rp200 miliar yang dialokasikan sebagai tambahan modal bagi PT Bakrie Construction (BCons) guna mendukung proyek Pertamina Hulu Rokan North Dumai Development, senilai Rp40 miliar disetor ke PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) untuk kebutuhan pematangan lahan proyek Jalan Tol Cimanggis-Cibitung, sedangkan sisanya akan digunakan sebagai modal kerja BNBR.
Manajemen BNBR menyampaikan, per 31 Desember 2025 rasio liabilitas terhadap ekuitas (DER) mengalami kenaikan menjadi 4,05 kali dari 0,75 kali pada akhir 2024. Adapun rasio liabilitas terhadap aset juga tercatat meningkat menjadi 0,8 kali dari 0,43 kali.
Pada sisi lain, rasio kemampuan pembayaran utang (DSCR) per akhir 2025 tercatat menurun menjadi 0,41 kali dari sebelumnya 0,59 kali. Rasio kemampuan menutup beban bunga (ICR) juga melorot menjadi 2,76 kali dibandingkan 7,99 kali pada akhir 2024.
Manajemen BNBR mengaku, penurunan DSCR terutama disebabkan oleh peningkatan liabilitas, sedangkan penurunan ICR dipengaruhi kenaikan beban keuangan. Perseroan menilai, rasio itu belum sepenuhnya mencerminkan kemampuan pembayaran utang, karena BNBR baru mengakuisisi jalan tol yang diharapkan memberikan kontribusi pendapatan berulang (recurring income).
Selain itu, perseroan meyakini bahwa rights issue akan mengurangi sebagian besar utang. Manajemen juga menegaskan, pemegang saham lama yang tidak menggunakan haknya dalam PM-HMETD V akan mengalami dilusi kepemilikan maksimal 34,15 persen setelah pelaksanaan rights issue.
Pada aksi korporasi ini, dua pemegang saham utama, yakni Port Fraser International Ltd dan Fountain City Investment Ltd telah menyatakan tidak akan melaksanakan seluruh HMETD miliknya. Seluruh HMETD masing-masing akan dialihkan kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI), yang sekaligus bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer). Secara keseluruhan, Port Fraser akan mengalihkan 20.148.477.438 HMETD, sedangkan Fountain City mengalihkan 19.934.513.407 HMETD kepada BCI.
Manajemen BNBR mengungkapkan, BCI memiliki kecukupan dana untuk melaksanakan seluruh HMETD yang diterima, serta memiliki komitmen untuk mengambil sisa saham yang tidak diserap pemegang saham lain hingga sebanyak-banyaknya 49.836.848.233 lembar. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
