
RollingStock.ID – Perusahaan alat kesehatan, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) menetapkan harga penawaran umum perdana saham (IPO) senilai Rp470 per lembar alias gagal mematok di harga atas book building Rp515 per saham. Maka, nilai emisi pada aksi korporasi ini hanya Rp245,74 miliar atau berada di bawah target maksimal saat Penawaran Awal yang mencapai Rp269,27 miliar.
Berdasarkan Prospektus terkait rencana IPO EMMI, emiten yang bergerak di bidang perdagangan alat laboratorium dan alat farmasi ini melepas saham ke masyarakat sebanyak 522.857.000 lembar bernilai nominal Rp50 per lembar atau setara 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO.
Pada aksi korporasi ini manajemen EMMI menunjuk PT Ina Sekuritas Indonesia dan PT BRI Danareksa Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi Efek. Sebelumnya pada masa penawaran awal (book building) 22-24 Juni 2026, harga saham ditawarkan sekitar Rp446-Rp Rp515 per lembar, dengan harapan bisa menghimpun dana hingga maksimal Rp269,27 miliar.
Akibat penetapan harga penawaran umum (offering) senilai Rp470 per saham, maka melalui aksi korporasi ini EMMI hanya bisa meraup uang masyarakat di pasar primer sebesar Rp245,74 miliar. Masa penawaran umum dilakukan pada 2-6 Juli 2026, pendistribusian saham secara elektronik (Tanggal Emisi) pada 7 Juli 2026 dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2026.
Lebih lanjut manajemen EMMI menyampaikan bahwa bersamaan dengan penawaran umum perdana saham ini perseroan juga mengalokasikan 1,04 persen dari saham yang ditawarkan dalam IPO atau sebanyak 5.447.300 lembar untuk program alokasi saham kepada karyawan (ESA).
Rencananya, senilai Rp50 miliar dana hasil IPO —setelah dikurangi biaya-biaya emisi— akan digunakan untuk pembayaran sebagian pokok utang EMMI, sebesar 6,4 persen akan dimanfaatkan untuk pengembangan usaha dalam bentuk pembiayaan belanja modal (capex) dan sekitar 72,3 persen untuk keperluan modal kerja EMMI. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary
