
RollingStock.ID – PT RMK Energy Tbk (RMKE) akan segera menggelar pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5. Aksi korporasi ini dilakukan ketika harga saham masih bergerak jauh di bawah level tertinggi yang sempat dicapai pada awal 2026, meski secara fundamental perusahaan bisa meraih pertumbuhan kinerja.
Berdasarkan data perdagangan saham RMKE di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2 Januari hingga 13 Juli 2026, saham perusahaan pertambangan Batubara ini ditutup di level 2.210. Posisi ini masih sebesar 76,7 persen di bawah level pucuk tahun ini di posisi Rp9.500 yang dicapai pada perdagangan 22 Januari 2026.
Setelah mencapai puncaknya pada Januari, saham RMKE bergerak dalam tren menurun hingga menyentuh level terendah 1.755 pada 8 Juni 2026. Dari titik tersebut, harga saham mulai pulih secara bertahap dan pada perdagangan 13 Juli 2026 menguat 25,9 persen dari level terendahnya.
Hingga pukul 14.00 WIB perdagangan hari ini, RMKE berada di level 2.200 atau menguat 4,27 persen dibandingkan ketika penutupan Jumat pekan lalu (10/7) di level 2.110. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp28,66 miliar dan volume transaksi sebanyak 13,21 juta saham, dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) Rp9,62 triliun.
Di tengah kondisi tersebut, RMKE memutuskan melanjutkan rencana stock split, setelah memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) pada 26 Juni 2026. Pemegang saham menyetujui perubahan nilai nominal saham dari Rp100 menjadi Rp20 per saham atau memiliki rasio 1:5.
Pasca stock split, jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh akan meningkat lima kali lipat dari 4,375 miliar saham menjadi 21,875 miliar saham. Namun, nilai modal ditempatkan dan disetor RMKE tentunya masih tetap Rp437,5 miliar, sehingga aksi korporasi ini tidak mengubah nilai ekonomi maupun kepemilikan pemegang saham.
Terkait rencana aksi korporasi ini, RMKE juga sudah mendapatkan persetujuan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Juli 2026. Perdagangan terakhir saham bernilai nominal lama di pasar reguler dan negosiasi pada 16 Juli 2026. Selanjutnya, saham bernilai nominal baru mulai diperdagangkan di pasar reguler dan negosiasi pada 17 Juli 2026, dengan batas recording date pada 20 Juli 2026.
Di tengah koreksi harga saham tersebut, indikator fundamental RMKE masih menunjukkan pertumbuhan. Pada Kuartal I-2026, perseroan membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 142,1 persen, pertumbuhan laba bruto sebesar 19,6 persen dan laba usaha bertumbuh 11,9 persen. Adapun marjin laba bersih (net profit margin) tercatat sebesar 6,8 persen.
Dari sisi valuasi, kapitalisasi pasar RMKE mencapai sekitar Rp9,62 triliun, hingga pukul 14.00 WIB hari ini. Saham perseroan diperdagangkan dengan rasio price to earnings (PER) sebesar 43,6 kali dan price to book value (PBV) sebesar 4,8 kali. Adapun book value per share (BVPS) sebesar Rp459,6, return on assets (ROA) sebesar 6,5 persen, ROE sebesar 11 persen dan debt to equity ratio (DER) sebesar 0,7 kali, mencerminkan struktur permodalan dengan tingkat leverage yang relatif moderat.
Secara umum, menurut manajemen RMKE, pelaksanaan stock split bertujuan untuk meningkatkan keterjangkauan harga saham, sehingga diharapkan bisa memperluas basis investor dan meningkatkan likuiditas perdagangan. Meski demikian, aksi korporasi tersebut tidak mengubah nilai fundamental, ekuitas maupun market cap RMKE, melainkan hanya mengubah nilai nominal dan jumlah saham beredar. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
