
RollingStock.ID – Pada Semester I-2026, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) masih menderita rugi bersih Rp1,92 triliun atau lebih rendah 17 persen dibandingkan Semester I-2025 sebesar Rp2,31 triliun. Dengan demikian, defisit saldo laba per 30 Juni 2026 menjadi Rp22,14 triliun atau membengkak 9,5 persen (year-to-date).
Berdasarkan laporan keuangan WSKT untuk periode berakhir 30 Juni 2026, emiten BUMN Karya ini mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp4,92 triliun atau meningkat 58,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 sebesar Rp3,1 triliun.
Namun peningkatan tersebut tidak mampu diikuti oleh perbaikan profitabilitas, karena beban pokok pendapatan di 1H26 melonjak 80,8 persen (y-o-y) menjadi Rp4,41 triliun. Akibatnya, laba bruto pada Semester I-2026 justru melorot 23,8 persen menjadi Rp504,21 miliar dari Rp661,33 miliar pada Semester I-2025.
Di sisi operasional, beban penjualan di 1H26 tercatat meningkat 11,6 persen (y-o-y) menjadi Rp62,79 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi mengalami kenaikan 7,1 persen menjadi Rp730,67 miliar. Beban pajak final juga melonjak 77 persen menjadi Rp95,57 miliar. Sementara itu, beban non-contributing plant menurun 70,1 persen menjadi Rp5,31 miliar.
Emiten di bawah kendali PT Danantara Asset Management (Persero) ini juga mencatatkan penurunan pendapatan bunga di 1H26 sebesar 34,6 persen (y-o-y) menjadi Rp205,64 miliar. Pada sisi lain, keuntungan selisih kurs bersih meningkat 52,9 persen menjadi Rp33,4 miliar.
Pada Semester I-2026, WSKT mencatatkan rugi bersih sebelum beban keuangan serta bagian rugi entitas asosiasi dan ventura bersama menyusut 57,5 persen (y-o-y) menjadi Rp101,59 miliar. Namun, beban keuangan meningkat 1 persen menjadi Rp1,9 triliun dan perseroan juga membukukan bagian rugi bersih entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp168,07 miliar alias menurun 38,8 persen (y-o-y).
Kondisi tersebut menyebabkan rugi sebelum pajak di Semester I-2026 mencapai Rp2,17 triliun atau menyusut 9,4 persen (y-o-y). Setelah membukukan beban pajak penghasilan sebesar Rp5,43 miliar, maka rugi periode berjalan menjadi Rp2,17 triliun lebih rendah 9,3 persen (y-o-y). Adapun besaran rugi yang diatribusikan kepada pemilik perusahaan di 1H26 sebesar Rp1,92 triliun atau menurun 17 persen (y-o-y).
Akibat WSKT mengalami rugi bersih Rp1,92 triliun, maka per 30 Juni 2026 jumlah defisit saldo laba alias akumulasi kerugian perseroan menjadi Rp22,14 triliun atau membengkak 9,5 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp20,22 triliun.
Per 30 Juni 2026, jumlah ekuitas WSKT tercatat Rp1,55 triliun alias anjlok dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp3,67 triliun. Hingga akhir Juni 2026, total liabilitas sebesar Rp66,53 triliun atau menurun tipis 0,8 persen dibandingkan per akhir 2025 yang mencapai Rp67,06 triliun.
Pada akhir Semester I-2026, total aset WSKT tercatat Rp68,08 triliun atau merosot 3,7 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas tersisa Rp2,61 triliun atau anjlok 40,7 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp4,41 triliun.
Apabila mengacu pada cash flow WSKT untuk periode Januari-Juni 2026, perseroan masih mengalami tekanan likuiditas, terutama tercermin dari arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi membengkak 19,4 persen menjadi Rp1,51 triliun, dibandingkan penggunaan kas sebesar Rp1,26 triliun pada periode yang sama di 2025. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
