
RollingStock.ID – Badan Pengaturan BUMN bersama Danantara Indonesia berjanji akan mempercepat restrukturisasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dengan mengarahkan emiten BUMN Karya ini menjadi pesaing PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) di bisnis jalan tol.
Langkah tersebut ditempuh di tengah kondisi keuangan WSKT yang masih tertekan, tercermin dari defisit saldo laba yang membengkak menjadi Rp22,14 triliun per 30 Juni 2026. Arah transformasi itu dibahas dalam pertemuan antara Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria dengan jajaran direksi WSKT pada Jumat (17/7)
Dalam keterangan tertulis yang diedarkan pada akhir pekan ini, pertemuan tersebut mengevaluasi berbagai aspek fundamental perusahaan, mulai dari valuasi aset, struktur dan kemampuan pembayaran utang, serta proyeksi arus kas hingga penentuan model bisnis yang dinilai paling tepat untuk mendukung keberlanjutan usaha.
Dony menegaskan, restrukturisasi WSKT bukan cuma untuk memperpanjang waktu penyelesaian kewajiban atau menunda persoalan yang ada, melainkan untuk membangun fondasi bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan. “Proses penyehatan perusahaan harus disusun berdasarkan perhitungan yang realistis, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga menghasilkan solusi permanen yang memperkuat kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya sekaligus menciptakan nilai jangka panjang,” ujarnya.
Salah satu arah yang didorong dalam restrukturisasi tersebut adalah memperkuat fokus WSKT pada bisnis jalan tol. Menurut Dony, karakteristik bisnis jalan tol yang memberikan pendapatan jangka panjang memiliki prospek kuat sebagai fondasi bisnis perusahaan. “Dengan karakteristik bisnis yang memberikan pendapatan jangka panjang, pengelolaan jalan tol dinilai memiliki prospek yang kuat sebagai fondasi bisnis perusahaan,” ucap Dony.
Lebih lanjut dia menambahkan, sebelum memasuki tahap pengembangan bisnis, kondisi keuangan WSKT harus dipastikan sehat agar perseroan mampu memenuhi kewajibannya secara mandiri, memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan dan membuka peluang memperoleh pendanaan, termasuk melalui pasar modal.
Dony juga menyampaikan target jangka panjang yang ingin dicapai melalui restrukturisasi tersebut. “Waskita jadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga, itu tidak apa-apa asal dihitung dengan benar,” ungkap Dony sembari menegaskan bahwa penguatan fokus bisnis bukan semata-mata ditentukan oleh besarnya aset yang dimiliki, tetapi harus didukung perhitungan bisnis yang matang, struktur keuangan yang sehat dan proyeksi usaha yang mampu menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan.
BP BUMN bersama Danantara, lanjut dia, akan terus mengawal proses restrukturisasi agar tidak berhenti pada penyelesaian persoalan jangka pendek, tetapi benar-benar menghasilkan transformasi menyeluruh. “Melalui model bisnis yang lebih fokus, struktur keuangan yang lebih kuat dan tata kelola yang semakin baik, Waskita diharapkan tumbuh sebagai perusahaan yang sehat, berdaya saing, serta tidak kembali menghadapi persoalan yang sama di masa mendatang,” tutur Dony.
Upaya restrukturisasi tersebut dilakukan ketika kondisi fundamental WSKT masih belum pulih, tercermin dari laporan keuangan periode yang berakhir 30 Juni 2026. Selama enam bulan pertama tahun ini, perseroan menderita rugi bersih Rp1,92 triliun atau lebih rendah 17 persen (year-on-year). Meski rugi bersih menyusut, akumulasi kerugian alias defisit saldo laba justru tercatat membengkak 9,5 persen menjadi Rp22,14 triliun dari Rp20,22 triliun pada 31 Desember 2025.
Pada sisi balance sheet, ekuitas WSKT per 30 Juni 2026 tercatat anjlok menjadi Rp1,55 triliun dari Rp3,67 triliun pada 31 Desember 2025. Total liabilitas tercatat Rp66,53 triliun atau menurun tipis 0,8 persen (year-to-date) dan total aset menyusut 3,7 persen (y-t-d) menjadi Rp68,08 triliun.
Jumlah kas dan setara kas WSKT per 30 Juni 2026 tersisa Rp2,61 triliun atau ambles 40,7 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang masih sebesar Rp4,41 triliun. Sementara itu, arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi membengkak 19,4 persen menjadi Rp1,51 triliun, dibandingkan penggunaan kas sebesar Rp1,26 triliun pada Semester I-2025. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
