
RollingStock.ID – PT PP (Persero) Tbk (PTPP) menghadapi tekanan likuiditas di sepanjang Semester I 2026, tercermin dari nilai kas dan setara kas yang ambles 59,54 persen menjadi Rp1,17 triliun per 30 Juni 2026 dari Rp2,89 triliun pada 31 Desember 2025.
Berdasarkan laporan keuangan PTPP untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, emiten di bawah kendali PT Danantara Asset Management ini mencatatkan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi mencapai Rp1,45 triliun atau semakin memburuk dibandingkan Semester I-2025 yang mencatatkan arus kas operasi negatif Rp716,39 miliar.
Tekanan terhadap likuiditas tersebut terjadi ketika profitabilitas PTPP juga mengalami pelemahan. Selama enam bulan pertama tahun ini, laba sebelum pajak tercatat anjlok 50,78 persen (year-on-year) menjadi Rp35,38 miliar. Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 1H26 tersungkur 66,12 persen (y-o-y) menjadi Rp17,37 miliar.
Pada sisi lain, beban keuangan terus membengkak seiring dengan tingginya penggunaan pendanaan berbasis utang. Sepanjang Semester I-2026, beban keuangan PTPP melonjak 29,6 persen menjadi Rp1,05 triliun dari Rp807,27 miliar pada Semester I-2025.
Peningkatan beban keuangan itu sejalan peningkatan utang, tercermin dari pinjaman bank jangka pendek kepada pihak berelasi per 30 Juni 2026 melambung 158,49 persen menjadi Rp4,49 triliun dari Rp1,74 triliun pada 31 Desember 2025. Sementara itu, pinjaman bank jangka panjang kepada pihak berelasi hingga akhir Semester I-2026 meningkat 24,86 persen (year-to-date).
Secara keseluruhan, total liabilitas PTPP per 30 Juni 2026 mencapai Rp38,99 triliun atau jauh lebih besar dibandingkan dengan total ekuitas yang hanya senilai Rp4,37 triliun, sehingga kondisi sekaligus mencerminkan tingkat leverage yang tetap tinggi.
Untuk sisi ekuitas, saldo laba juga menunjukkan kondisi yang belum sepenuhnya pulih, karena saldo laba yang tidak ditentukan penggunaannya memang berbalik membaik menjadi positif Rp193,47 miliar dari sebelumnya defisit Rp6,04 triliun pada 31 Desember 2025.
Namun, perbaikan tersebut tidak sepenuhnya berasal dari laba Semester I-2026 yang hanya senilai Rp17,37 miliar, melainkan juga disertai dengan perubahan penyajian pada komponen ekuitas. Pada saat yang sama, saldo laba yang ditentukan penggunaannya per 30 Juni 2026 berubah menjadi negatif atau defisit Rp3,74 triliun dari sebelumnya positif Rp2,3 triliun per 31 Desember 2025. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
