Pendapatan Inti di 1H26 Menyusut, Laba Bersih BTPN Syariah (BTPS) Naik Tipis 1,8%

btps2
PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) – (Foto: RollingStock)

RollingStock.ID – PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) membukukan pertumbuhan laba bersih yang relatif terbatas pada Semester I-2026 di tengah pelemahan pendapatan dari bisnis inti dan kenaikan beban operasional. Laba bersih BTPS tercatat Rp655,49 miliar pada 1H26 atau hanya naik 1,8 persen dibandingkan Rp643,85 miliar pada 1H25.

Berdasarkan laporan keuangan BTPS untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, kenaikan laba tersebut terjadi ketika pendapatan dari marjin murabahah —yang merupakan sumber utama pendapatan BTPN Syariah— menyusut 3,8 persen menjadi Rp2,2 triliun dari Rp2,28 triliun pada Semester I-2025.

Pendapatan operasional lainnya pada Semester I-2026 juga tercatat anjlok 52,2 persen menjadi Rp13,34 miliar dari Rp27,92 miliar pada periode yang sama di 2025. Sementara itu, kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) bruto membaik menjadi 2,74 persen dari 2,92 persen pada akhir 2025, sedangkan NPF neto menurun menjadi 0,01 persen dari 0,02 persen.

Pada Semester I-2026, beban pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) menurun menjadi Rp276,18 miliar dari Rp417,67 miliar pada Semester I-2025 alias berkurang 33,9 persen. Pendapatan operasional bersih pun meningkat menjadi Rp835,94 miliar dibandingkan Rp820,91 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun rasio pemenuhan CKPN terhadap ketentuan minimum OJK tercatat sebesar 459,74 persen atau lebih rendah dari dari 525,41 persen per 31 Desember 2025, namun masih jauh di atas batas minimum regulator.

Sementara itu, beban tenaga kerja selama enam bulan pertama tahun ini tercatat meningkat 5,3 persen menjadi Rp812,6 miliar dari Rp771,77 miliar pada periode yang sama di 2025. Beban umum dan administrasi pada 1H26 juga membengkak 10,6 persen menjadi Rp380,68 miliar dari realisasi di 1H25 yang senilai Rp344,18 miliar.

Dari sisi neraca, total aset BTPN Syariah meningkat menjadi Rp23,3 triliun per 30 Juni 2026 dibandingkan Rp22,75 triliun pada 31 Desember 2025. Piutang murabahah bersih mengalami kenaikan menjadi Rp8,75 triliun dari Rp8,39 triliun, sedangkan pembiayaan musyarakah melompat menjadi Rp1,31 triliun dari Rp963,05 miliar. Investasi pada surat berharga juga mencatatkan peningkatan menjadi Rp10,56 triliun dari Rp10,03 triliun.

Pada sisi sisi pendanaan, tabungan mudharabah per 30 Juni 2026 tercatat melonjak menjadi Rp1,47 triliun dari Rp886,64 miliar pada 31 Desember 2025. Sebaliknya, deposito mudharabah di akhir Semester I-2026 menurun menjadi Rp8,33 triliun dari Rp9,04 triliun pada akhir 2025. Total dana syirkah temporer tercatat Rp9,8 triliun atau menurun dari Rp9,93 triliun, sedangkan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah tercatat sebesar 3,6 persen dan BTPS tetap memenuhi ketentuan Bank Indonesia.

Laporan arus kas menunjukkan kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi di Semester I-2026 sebesar Rp107,73 miliar, berbalik dari arus kas masuk sebesar Rp361,5 miliar pada Semester I-2025. Arus kas investasi juga mencatatkan pengeluaran bersih Rp1,41 triliun, terutama untuk pembelian surat berharga, aset tetap dan aset tak berwujud. Akibatnya, kas dan setara kas pada per 30 Juni 2026 tersisa Rp2,05 triliun dari Rp3,68 triliun pada 31 Desember 2025. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top