Meski Kinerja 1H26 Berbalik Laba, GOTO Masih Tanggung Defisit Rp214,74 Triliun; Cadangan Kerugian Kredit Membengkak 78,9%

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) – (Foto: Milva Sary/RollingStock)

RollingStock.ID – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih membukukan akumulasi rugi (defisit) mencapai Rp214,74 triliun per 30 Juni 2026 meski berhasil membalikkan kinerja menjadi laba pada Semester I-2026. Namun emiten pemilik Saham Gocap ini menghadapi tekanan dari lonjakan beban penurunan nilai piutang pembiayaan dan pinjaman yang membengkak 78,9 persen menjadi Rp691,39 miliar dibandingkan Rp386,47 miliar pada periode yang sama 2026.

Mengutip laporan keuangan GOTO untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, saldo piutang pembiayaan dan pinjaman tercatat meningkat 25,3 persen menjadi Rp3,42 triliun dari Rp2,73 triliun pada 31 Desember 2025. Lonjakan pencadangan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong total biaya dan beban GOTO di Semester I-2026 meningkat 16,97 persen menjadi Rp10,21 triliun dari Rp8,73 triliun pada Semester I-2025.

Berdasarkan rincian beban menurut sifat, biaya layanan pengiriman di paruh pertama 2026 meningkat 18,2 persen menjadi Rp3,18 triliun dari Rp2,69 triliun pada periode yang sama di 2025. Sementara itu, beban gaji dan imbalan karyawan membengkak 15,2 persen menjadi Rp1,93 triliun dari Rp1,68 triliun. Beban iklan dan pemasaran juga melonjak 31,7 persen menjadi Rp954,51 miliar dari Rp724,90 miliar. Pada sisi lain, biaya pengembangan teknologi informasi dan infrastruktur menurun 23,2 persen menjadi Rp583,78 miliar dari Rp760,37 miliar.

Selain itu, biaya jasa kontrak, kompensasi berbasis saham, biaya professional dan berbagai beban operasional lainnya juga tetap menjadi komponen signifikan dalam struktur biaya GOTO. Biaya jasa kontrak pada 1H26 tercatat sebesar Rp736,62 miliar, kompensasi berbasis saham sebesar Rp237,97 miliar, biaya profesional senilai Rp186,02 miliar, sedangkan beban lainnya mencapai Rp1,29 triliun. Seluruh komponen ini membentuk total biaya dan beban sebesar Rp10,21 triliun selama enam bulan pertama di 2026.

Tekanan juga tercermin pada laporan income statement, tercermin dari beban umum dan administrasi pada 1H26 membengkak 27,2 persen menjadi Rp2,45 triliun dibandingkan Rp1,93 triliun pada 1H25. Beban penjualan dan pemasaran meningkat 18,6 persen menjadi Rp1,59 triliun dari Rp1,34 triliun, sedangkan beban operasional dan pendukung meningkat dibandingkan periode yang sama di 2025. Beban pokok pendapatan juga bertambah, seiring dengan pengingkatan aktivitas usaha GOTO.

Pada sisi pendanaan, biaya keuangan di Semester I-2026 melonjak 61,4 persen menjadi Rp388,3 miliar dibandingkan Rp240,53 miliar pada Semester I-2025. Peningkatan ini terutama berasal dari beban bunga atas pinjaman yang membengkak 64,4 persen menjadi Rp376,81 miliar dari Rp229,21 miliar. Sementara itu, biaya administrasi bank tercatat Rp5,85 miliar dan beban bunga atas sewa Rp5,64 miliar.

Di luar biaya operasional, GOTO juga membukukan rugi penyesuaian nilai wajar instrumen keuangan sebesar Rp328,1 miliar. Mengutip catatan atas laporan keuangan (CALK), kerugian tersebut terutama berasal dari penyesuaian nilai wajar investasi lain-lain yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (FVTPL), termasuk penyesuaian nilai wajar investasi sebesar Rp326,85 miliar. Emiten milik investor Singapura (SVF GT Subco Singapore Pte Ltd) dan China (Taobao China Holding Ltd) ini juga mencatat kerugian penurunan nilai investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp14,71 miliar.

Meski dibayangi kenaikan berbagai beban tersebut, pendapatan bersih GOTO di Semester I-2026 bisa bertumbuh 28,5 persen menjadi Rp10,99 triliun dari Rp8,56 triliun pada Semester I-2025. Pertumbuhan pendapatan ini mendorong GOTO membukukan laba usaha pada enam bulan pertama di 2026 sebesar Rp781,88 miliar alias berbalik dari rugi usaha Rp171,60 miliar pada enam bulan pertama di 2025.

Setelah memperhitungkan seluruh pendapatan dan beban, GOTO tercatat bisa membukukan laba periode berjalan di Semester I-2026 senilai Rp423,25 miliar atau berbalik dari rugi sebesar Rp741,96 miliar pada Semester I-2025. Adapun besaran laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 1H26 senilai Rp607,49 miliar atau berbanding terbalik dengan kondisi di 1H25 yang menderita rugi bersih sebesar Rp580,01 miliar.

Meski berhasil membukukan laba bersih pada Semester I-2026, namun akumulasi rugi (defisit) GOTO masih mencapai Rp214,74 triliun per 30 Juni 2026. Namun posisi ini membaik dibandingkan dengan kondisi per 31 Desember 2025 yang mencatatkan defisit Rp215,33 triliun. Pada sisi lain, saldo kepentingan non-pengendali masih berada pada posisi negatif sebesar Rp3,42 triliun.

Per 30 Juni 2026, total aset GOTO tercatat Rp47,48 triliun atau meningkat 3,8 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp45,76 triliun. Peningkatan ini terutama ditopang oleh kenaikan kas dan setara kas, piutang pembiayaan dan pinjaman, serta sejumlah aset lancar lainnya, meski sebagian diimbangi oleh penurunan beberapa aset tidak lancar.

Hingga akhir Semester I-2026, total liabilitas tercatat mencapai Rp18,5 triliun alias membengkan 8,5 persen (year-to-date), yang didominasi kewajiban jangka pendek sebesar Rp11,96 triliun. Kenaikan total liabilitas GOTO terutama dipicu peningkatan utang escrow dan lain-lain kepada pihak ketiga sebesar 14,4 persen menjadi Rp3 triliun dari Rp2,62 triliun, akrual yang bertambah 21,2 persen menjadi Rp4,77 triliun dari Rp3,94 triliun, serta utang usaha kepada pihak ketiga yang membengkak 14 persen menjadi Rp1,29 triliun dari Rp1,13 triliun.

Selain itu, pinjaman jangka pendek per 30 Juni 2026 tercatat meningkat 14,9 persen menjadi Rp1,15 triliun dari Rp1 triliun pada 31 Desember 2025, sedangkan bagian lancar pinjaman bank jangka panjang melonjak 68,7 persen menjadi Rp536,97 miliar dari Rp318,39 miliar.

Sejalan dengan perolehan laba, total ekuitas GOTO per 30 Juni 2026 menjadi Rp28,98 triliun atau mengalami kenaikan tipis 0,9 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp28,71 triliun. Namun, besarnya akumulasi rugi (defisit) yang masih tersisa menunjukkan bahwa GOTO masih memerlukan waktu untuk memulihkan seluruh kerugian yang terakumulasi selama beberapa tahun terakhir.

Pada sisi likuiditas, per 30 Juni 2026, posisi kas dan setara kas GOTO tercatat meningkat 7,9 persen menjadi Rp23,46 triliun dari Rp21,76 triliun pada 31 Desember 2025. Laporan keuangan perseroan juga menunjukkan jumlah karyawan tetap Grup menurun 4 persen menjadi 3.411 orang per 30 Juni 2026 dibandingkan 3.553 orang pada akhir 2025. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top