
RollingStock.ID – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) memasuki babak baru dalam pengembangan bisnisnya setelah beralih dari fase pembangunan infrastruktur digital menuju fase monetisasi aset. Perseroan menilai Semester I 2026 menjadi titik balik, seiring jaringan serat optik dan infrastruktur radio yang sudah dibangun mulai menghasilkan recurring revenue.
Menurut Direktur WIFI, Shannedy Ong, transformasi tersebut tercermin dari perubahan struktur bisnis WIFI sebagai perusahaan pemilik brand Surge. Saat ini segmen telekomunikasi menyumbang 82 persen terhadap total pendapatan di 1H26 atau meningkat dari 55 persen pada 1H25. Pergeseran ini menjadikan bisnis telko sebagai kontributor utama pendapatan dan mencerminkan perubahan bauran bisnis menuju layanan konektivitas yang bersifat berulang dan lebih mudah diprediksi.
“Semester I-2026 menandai titik balik bagi Surge. Selama beberapa tahun terakhir kami membangun infrastruktur, kini fokus kami adalah memastikan setiap kilometer serat optik dan setiap sektor radio yang telah kami bangun menghasilkan pendapatan berulang. Pertumbuhan pendapatan telekomunikasi sebesar 357 persen adalah bukti awal bahwa transisi tersebut berjalan sesuai rencana,” ujar Shannedy dalam keterangannya yang diterbitkan di Jakarta, Jumat (31/7).
Dia mengatakan, penguatan bisnis telko turut didukung oleh pertumbuhan basis pelanggan yang terus meningkat. Per 30 Juni 2026, jumlah pelanggan HomeConnect FTTH mencapai 1,85 juta atau meningkat 377 persen dibandingkan periode yang sama di 2025. Sementara itu, layanan HomeConnect FWA yang baru diluncurkan secara komersial pada akhir Februari 2026 sudah memiliki 513.040 pelanggan.
Pada Kuartal II-2026, layanan HomeConnect FWA membukukan penambahan bersih sekitar 303.600 pelanggan, sementara HomeConnect FTTH menambah sekitar 153.000 pelanggan. Shannedy menilai, tingginya adopsi layanan FWA memperkuat keyakinan bahwa teknologi tersebut dapat menjadi jalur akuisisi pelanggan yang lebih cepat dan lebih efisien dari sisi kebutuhan modal dibandingkan pembangunan jaringan serat optik di kawasan tertentu.
Seiring bertambahnya basis pelanggan, lanjut dia, kini fokus perseroan bergeser dari perluasan cakupan jaringan menuju peningkatan penetrasi pelanggan, average revenue per user (ARPU) dan retensi pelanggan. Pada Kuartal II-2026, blended ARPU tercatat senilai Rp108.000 per pelanggan per bulan, termasuk kontribusi dari layanan telekomunikasi Business-to-Business (B2B).
Untuk memperkuat daya saing di pasar fixed broadband, Surge meluncurkan dua layanan baru, yakni Starlite Prime dan Starlite Super. Starlite Super menawarkan kecepatan hingga 2 Gbps berbasis teknologi XGS-PON dan Wi-Fi 7 dengan tarif Rp250.000 per bulan, sedangkan Starlite Prime menawarkan kecepatan hingga 500 Mbps dengan harga Rp168.000 per bulan.
Kehadiran kedua produk tersebut memperluas portofolio layanan perseroan dari segmen entry-level hingga premium. Bahkan, Starlite Super meraih penghargaan WBBA Gigacity Champion pada ajang Broadband Development Summit APAC 2026 di Bangkok sebagai layanan fixed broadband berbasis Wi-Fi 7 pertama di Indonesia.
Di tengah fase ekspansi, WIFI tetap menjaga profitabilitas, tercermin dari EBITDA Semester I-2026 mencapai Rp948,9 miliar atau meningkat 117 persen dibandingkan periode yang sama di 2025, dengan margin EBITDA sebesar 60,4 persen. Menurut Shannedy, kemampuan mempertahankan margin tersebut mencerminkan disiplin Surge dalam mengelola belanja modal dan biaya operasional di tengah ekspansi bisnis.
“Mempertahankan margin EBITDA di atas 60 persen justru pada fase ekspansi paling intensif dalam sejarah perseroan mencerminkan disiplin belanja modal dan pengendalian biaya kami. Pergeseran menuju pendapatan telekomunikasi ritel yang berulang memang membawa margin ke tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan proyek infrastruktur, namun basis pendapatan yang kami bangun hari ini jauh lebih berkelanjutan dan lebih dapat diprediksi,” kata Shannedy.
Pada Semester I-2026, WIFI meraih pendapatan Rp1,57 triliun atau melonjak 206 persen dari Rp513,4 miliar pada Semester I-2025. Pertumbuhan ini terutama ditopang pendapatan segmen telko yang melambung 357 persen menjadi Rp1,28 triliun. Laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk di 1H26 meningkat 45 persen menjadi Rp331,2 miliar dari Rp227,9 miliar pada 1H25, sedangkan laba bersih konsolidasi melambung 118 persen (y-o-y) menjadi Rp496,8 miliar.
Selama enam bulan pertama di 2026, belanja modal (capex) mencapai Rp1,18 triliun untuk melanjutkan ekspansi jaringan, sedangkan kas dan setara kas mencapai Rp8,29 triliun setelah penerbitan obligasi dan sukuk pada semester pertama. Utang bersih tercatat Rp1,77 triliun atau sebesar 0,9 kali EBITDA tahunan, yang dinilai masih mencerminkan struktur permodalan yang konservatif di tengah fase investasi.
Memasuki paruh kedua 2026, Surge akan konsentrasi pada strategi peningkatan utilisasi jaringan yang telah dibangun, peningkatan ARPU melalui migrasi pelanggan ke paket berkecepatan lebih tinggi dan peningkatan efisiensi operasional layanan FWA seiring bertambahnya skala pelanggan. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
