
RollingStock.ID – PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 19 persen pada Semester I-2026, meski penjualan dan laba usaha masih mencatatkan pertumbuhan. Pelemahan kinerja ini terutama dipicu lonjakan beban keuangan yang lebih dari dua kali lipat, di tengah lonjakan total liabilitas hampir Rp9 triliun dibandingkan per 31 Desember 2025.
Berdasarkan laporan keuangan INDF untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, emiten di bawah jaringan bisnis Salim Group membukukan laba bersih senilai Rp4,72 triliun atau merosot 19,08 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 sebesar Rp5,84 triliun.
Padahal, penjualan neto yang dicatatkan INDF selama enam bulan pertama tahun ini masih bertumbuh 9,49 persen menjadi Rp65,53 triliun dari Rp59,84 triliun pada periode yang sama di 2025. Sejalan dengan itu, laba bruto di 1H26 mengalami kenaikan 7,81 persen (y-o-y) menjadi Rp21,38 triliun, sedangkan laba usaha bertumbuh 13,63 persen (y-o-y) menjadi Rp13,29 triliun.
Sayangnya, pertumbuhan di level operasional tersebut tidak mampu diterjemahkan menjadi kenaikan laba bersih. Penyebab utamanya adalah beban keuangan di Semester I-2026 yang melonjak 143,82 persen menjadi Rp5,38 triliun dari Rp2,21 triliun pada Semester I-2025. Akibatnya, laba sebelum pajak menurun 14,63 persen (y-o-y) menjadi Rp8,71 triliun, sebelum akhirnya laba bersih periode berjalan menyusut menjadi Rp6,95 triliun dari Rp8,1 triliun.
Besarnya beban keuangan tersebut tentunya mencerminkan semakin besarnya tekanan pembiayaan terhadap kinerja INDF. Nilainya bahkan setara 40 persen dari laba usaha yang dihasilkan selama enam bulan pertama 2026, sehingga menggerus sebagian besar pertumbuhan keuntungan operasional.
Dari sisi balance sheet, per 30 Juni 2026 total liabilitas INDF tercatat mencapai Rp106,53 triliun dari Rp97,75 triliun pada 31 Desember 2025 atau bertambah Rp8,79 triliun atau sebesar 8,99 persen. Peningkatan liabilitas ini terutama dipengaruhi peningkatan utang obligasi menjadi Rp48,9 triliun dari Rp45,94 triliun.
Selain itu, bagian utang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun melonjak menjadi Rp7,21 triliun dari Rp4,02 triliun, sedengkan utang bank jangka pendek, cerukan dan utang trust receipts tetap berada pada level tinggi mencapai Rp21,65 triliun. Perseroan juga membukukan utang dividen Rp3,49 triliun per 30 Juni 2026.
Hingga akhir Semester I 2026, total aset perseroan tercatat meningkat menjadi Rp231,25 triliun dari Rp217,98 triliun pada akhir Desember 2025. Kenaikan ini diikuti pertumbuhan total ekuitas menjadi Rp124,71 triliun dari Rp120,24 triliun. Sementara itu, posisi kas dan setara kas INDF per 30 Juni 2026 tercatat Rp54,13 triliun atau mengalami kenaikan dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar Rp47,47 triliun. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
