
RollingStock.ID – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memutuskan untuk melanjutkan penambahan pendanaan melalui pasar obligasi dengan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap III-2026 senilai Rp2,25 triliun, ketika kondisi arus kas dari aktivitas operasi yang masih tercatat negatif pada Kuartal I-2026.
Berdasarkan Prospektus TPIA terkait rencana penerbitan dan penawaran obligasi, sebelumnya perseroan telah mendistribusikan Obligasi Berkelanjutan V Tahap I-2025 senilai Rp1,5 triliun dan Tahap II-2026 sebesar Rp2,25 triliun. Target penghimpunan dana dari program PUB Obligasi Berkelanjutan V mencapai Rp6 triliun.
Pada penawaran Obligasi Berkelanjutan V Tahap III-2026 yang sebesar Rp2,25 triliun, surat utang ini terbagi menjadi empat seri, yakni Seri A sebesar Rp1,32 triliun bertenor 370 hari kalender dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,5 persen per tahun, sedangkan Seri B senilai Rp532,19 miliar bertenor tiga tahun dengan tingkat bunga tetap sebesar 9 persen per tahun.
Adapun Seri C senilai Rp177,52 miliar bertenor lima tahun dengan tingkat bunga tetap sebesar 9,5 persen per tahun dan Seri D sebesar Rp221,83 miliar bertenor tujuh tahun dengan tingkat bunga tetap mencapai 10 persen per tahun.
Rencana penawaran surat utang dalam upaya memenuhi modal kerja ini dilakukan TPIA di saat arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi mencapai USD191,13 juta pada Kuartal I-2026. Namun demikian, arus kas operasi yang minus ini lebih rendah dibandingkan Kuartal I-2025 yang minus sebesar USD318,76 juta.
Apabila mengacu pada Prospektus TPIA, walaupun perseroan memperoleh tambahan pendanaan baru, tetapi beban kewajiban berbunga sudah berada pada level yang tinggi. Per 31 Maret 2026, utang bank jangka pendek dan jangka panjang mencapai USD4,5 miliar, sedangkan utang obligasi USD758 juta. Total liabilitas hingga akhir Kuartal I-2026 mencapai USD7,65 miliar atau sebesar 61 persen dari total aset yang senilai USD12,51 miliar.
Prospektus juga menunjukkan rasio pinjaman terhadap ekuitas (interest-bearing debt terhadap ekuitas) sudah mencapai 118,32 persen per 31 Maret 2026. Dengan asumsi seluruh dana hasil penerbitan Obligasi Berkelanjutan V Tahap III-2026 telah diterima, maka rasio tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 121,05 persen.
Rencananya, dana hasil penawaran obligasi —setelah dikurangi biaya-biaya emisi— akan digunakan seluruhnya untuk keperluan modal kerja, termasuk di antaranya pembelian bahan baku produksi untuk kegiatan usaha yang pelaksanaannya akan digunakan oleh TPIA. Artinya, tidak ada alokasi khusus untuk pembangunan proyek baru ataupun belanja modal dalam rencana penggunaan dana tersebut.
Sekadar mengingatkan, obligasi TPIA ini tidak dijamin dengan aset atau jaminan khusus. Hak pemegang obligasi hanya bersifat pari passu tanpa hak preferen terhadap kreditur lain, kecuali kreditur yang memiliki jaminan khusus atas aset perseroan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Emiten milik taipan Prajogo Pangestu ini juga menyatakan tidak membentuk dana cadangan pelunasan (sinking fund) untuk pembayaran pokok maupun bunga obligasi. Keputusan tersebut diambil agar dana hasil penerbitan obligasi dapat dioptimalkan sesuai tujuan penggunaannya, yakni mendukung kebutuhan modal kerja TPIA.
Tingkat bunga obligasi yang terbilang tinggi di rentang 8,5 persen hingga 10 persen tersebut sejalan dengan peringkat TPIA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang hanya berada di level idAA- (Double A Minus). Masa penawaran umum obligasi berlangsung selama kurun 6-9 Juli 2026, penjatahan pada 10 Juli 2026, pendistribusian obligasi secara elektronik (Tanggal Emisi) pada 14 Juli 2026 dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan pada 15 Juli 2026.
Pada aksi korporasi ini, manajemen TPIA menunjuk sembilan penjamin pelaksana emisi obligasi, yakni PT BCA Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, PT Henan Putihrai Sekuritas, PT KB Valbury Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas dan PT Sinarmas Sekuritas. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
