
RollingStock.ID – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menutup Tahun Buku 2025 dengan raihan laba bersih (konsolidasian) hanya Rp57,13 triliun atau melorot 5,3 persen dibandingkan dengan capaian di sepanjang 2024 yang sebesar Rp60,31 triliun.
Berdasarkan materi Analyst Meeting Kinerja Keuangan BBRI untuk periode berakhir 31 Desember 2025, penurunan bottom line tersebut terjadi di tengah ekspansi kredit sebesar dua digit dan perbaikan rasio kredit bermasalah (NPL). Kondisi ini sekaligus menandakan bahwa tekanan profitabilitas tidak sepenuhnya terselesaikan akibat perbaikan kualitas aset.
Laba operasional bank BUMN ini di sepanjang 2025 Rp73,25 triliun atau merosot 6,4 persen dibandingkan setahun sebelumnya Rp78,22 triliun. Adapun laba sebelum pajak juga tercatat menyusut 5,8 persen dari Rp77,25 triliun di 2025 menjadi Rp72,79 triliun pada Tahun Buku 2024.
Padahal dari sisi pendapatan inti, pendapatan bunga bersih (NII) di 2025 bisa bertumbuh 5,5 persen (year-on-year) menjadi Rp150,5 triliun. Pendapatan bunga tercatat Rp207,78 triliun alias meningkat 4,3 persen (y-o-y), namun pertumbuhan ini belum cukup untuk menahan penurunan laba bersih.
Pre-provision operating profit (PPOP) secara tahunan terpantau hanya bertumbuh 2,6 persen menjadi Rp119,43 triliun dari Rp116,38 triliun pada Tahun Buku 2024. Kondisi ini sekaligus mencerminkan bahwa ruang ekspansi profit operasional yang semakin terbatas.
Secara kuartalan, laba bersih BBRI di Kuartal IV-2025 sebesar Rp15,9 triliun atau meningkat 8,2 persen dibandingkan dengan Kuartal III-2025 yang sebesar Rp14,7 triliun. Walaupun terjadi pertumbuhan secara quarter-on-quarter, tetapi capaian ini masih berada dalam tren tahunan yang melemah.
Lonjakan Beban Provisi Tekan Bottom Line
Sepanjang 2025, beban provisi BBRI mencapai Rp46,18 triliun atau membengkak 21 persen dibandingkan dengan sepanjang 2024 senilai Rp38,16 triliun. Kenaikan signifikan ini terjadi ketika kredit per 31 Desember 2025 bertumbuh 12,3 persen menjadi Rp1.521,49 triliun dari Rp1.354,64 triliun per 31 Desember 2024.
Kenaikan provisi tersebut juga menandakan biaya risiko yang dicatatkan BBRI tetap tinggi. Dalam guidance, biaya kredit di 2025 berada pada rentang 3-3,2 persen, sedangkan pada 2026 diproyeksikan berkisar 2,9-3,2 persen.
Hingga akhir 2025, rasio kredit bermasalah (NPL) gross yang dicatatkan BBRI sebesar 2,78 persen atau menurun dibandingkan pada akhir 2024 yang sebesar 2,95 persen. Secara relatif, terjadi penurunan 5,76 persen, namun secara tren historis NPL ini memang membaik dari 3,08 persen pada 2023 dan seebsar 3 persen pada akhir Tahun Buku 2022.
Pada 2025, loan at risk (LaR) BBRI juga tercatat menurun menjadi 9,6 persen dari 10,7 persen pada 2024 alias jauh lebih rendah dibandingkan dengan 12,5 persen pada akhir 2023. Meski demikian, kebutuhan pencadangan yang meningkat menunjukkan bahwa perbaikan rasio NPL belum sepenuhnya mengurangi tekanan biaya risiko.
Per 31 Desember 2025, total aset BRI mencapai Rp2.135,37 triliun atau bertumbuh 7,2 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2024 yang sebesar Rp1.992,19 triliun. Adapun dana pihak ketiga (DPK) hingga akhir 2025 tercatat meningkat 7,4 persen menjadi Rp1.467,18 triliun dari Rp1.365,45 triliun pada akhir 2024.
Rasio loan to deposit ratio (LDR) di 2025 berada di level 91,4 persen atau lebih tinggi dibandingkan pada 2024 yang sebesar 88,6 persen. Rasio kecukupan modal (CAR) BBRI pada 2025 sebesar 25,9 persen atau lanjut melorot dari 26,7 persen pada 2024 dan sebesar 27,7 persen di 2023.
Mengacu pada panduan Tahun Buku 2026, BRI menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 7-9 persen atau lebih rendah dari realisasi di 2025 sebesar 12,3 persen. Net interest margin (NIM) diproyeksikan pada kisaran 7,4-7,8 persen, sementara itu biaya kredit ditargetkan pada rentang 2,9-3,2 persen dan cost to income ratio (CIR) di kisaran 41-43 persen. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
