
RollingStock.ID – Harga minyak global kembali menunjukkan akselerasi tajam dengan menembus ambang psikologis USD100 per barel pada awal perdagangan Senin, menyusul berakhirnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran tanpa titik temu.
Kebuntuan diplomatik tersebut memperdalam kekhawatiran para pelaku pasar terhadap potensi disrupsi pasokan energi global, khususnya dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi episentrum produksi minyak dunia. Kenaikan harga turut dipicu laporan kesiapan Angkatan Laut AS untuk melakukan blokade di Selat Hormuz.
Minyak mentah berjangka Brent sebagai acuan global terpantau melonjak sebesar USD7,11 atau setara 7,47 persen menjadi USD102,31 per barel pada pukul 05.04 WIB, setelah sebelumnya ditutup melemah 0,75 persen pada sesi perdagangan Jumat, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters di Singapura, Senin (13/4).
Sejalan dengan kondisi itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) sebagai patokan AS juga mencatatkan reli signifikan, dengan kenaikan USD7,86 atau sebesar 8,14 persen ke level USD104,43 per barel, setelah terkoreksi 1,33 persen pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan harga yang agresif ini merefleksikan tingginya sensitivitas pasar energi terhadap eskalasi risiko geopolitik, terutama yang melibatkan negara-negara produsen utama. Selat Hormuz diketahui sebagai koridor vital yang dilalui sekitar sepertiga suplai minyak global, sehingga setiap potensi gangguan di wilayah tersebut memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas harga internasional.
Pelaku pasar dan analis menilai, tanpa terobosan diplomatik dalam waktu dekat, maka volatilitas harga minyak berpotensi berlanjut dalam intensitas tinggi. Ketidakpastian yang berkepanjangan ini tidak hanya meningkatkan tekanan inflasi global, tetapi juga berisiko memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi negara-negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor energi. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
