
RollingStock.ID – Selama enam bulan pertama tahun ini, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) masih menghadapi tekanan kinerja, tercermin dari rugi bersih yang masih besar telah membuat defisit saldo laba semakin membengkak hingga USD110,63 Juta dan menggerus ekuitas maupun posisi kas.
Berdasarkan laporan keuangan DOID untuk Semester I-2026, emiten tambang batubara milik pengusaha Ronald Sutardja dan Ashish Gupta ini mencatatkan defisit (akumulasi rugi) per 30 Juni 2026 mencapai USD110,63 juta atau membengkak 74,93 persen dibandingkan defisit per 31 Desember 2025 sebesar USD63,24 juta.
Kondisi tersebut terjadi setelah DOID menderita rugi bersih di paruh pertama tahun ini sebesar USD50,64 juta. Meskipun kerugian ini menyusut 31,76 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 sebesar USD74,21 juta, namun nilainya terbilang besar sehingga semakin memperdalam total defisit saldo laba perseroan.
Tekanan terhadap laba di Semeseter I-2026 dipicu penurunan pendapatan bersih sebesar 5,12 persen menjadi USD692,85 juta dari USD730,21 juta pada Semester I-2025. Pada saat yang sama, DOID berbalik mencatat rugi bruto sebesar USD13,69 juta, setelah pada 1H25 masih membukukan laba bruto USD12,17 juta.
Per 30 Juni 2026, total aset DOID tercatat USD1,41 miliar atau menurun 7,47 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar USD1,53 miliar, terutama akibat menyusutnya aset lancar sebesar 14,47 persen (y-t-d) menjadi USD493,26 juta. Adapun penurunan aset lancar ini terutama disebabkan oleh berkurangnya jumlah kas dan setara kas sebesar 24,64 persen (y-t-d) menjadi USD158,46 juta per 30 Juni 2026.
Hingga akhir Semester I-2026, total liabilitas terpantau bisa ditekan 4,58 persen (y-t-d) menjadi USD1,41 miliar, namun kewajiban jangka pendek justru meningkat 2,34 persen menjadi USD505,32 juta dari USD493,77 juta per 31 Desember 2025. Total ekuitas DOID per 30 Juni 2026 tercatat nyungsep 94,89 persen menjadi tersisa USD2,5 juta dari USD48,87 juta pada 31 Desember 2025. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
