Emas Tergelincir dari Rekor Setelah Trump Melunak Soal Greenland

emas2
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga emas memangkas sebagian besar penguatannya dan menurun dari rekor tertinggi sepanjang masa, setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melunak dari ancaman keras terkait Greenland. Hal ini pada gilirannya memicu reli pasar saham global dan menekan minat terhadap aset safe-haven.

Berdasarkan laporan Reuters dari Bengaluru, Rabu (21/1) atau Kamis (22/1) pagi WIB, emas spot tercatat meningkat tipis 0,3 persen menjadi USD4.778,51 per ons pada pukul 03.10 WIB, namun telah menjauh dari rekor USD4.887,82 per ons yang sempat disentuh sebelumnya. Di sisi lain, emas berjangka AS kontrak Februari 2026 justru ditutup melonjak 1,5 persen ke level USD4.837,50 per ons.

Penguatan pasar saham terjadi setelah Trump menarik ancaman pengenaan tarif terhadap sejumlah negara Eropa, menyusul pernyataannya bahwa dia sudah mencapai kerangka kesepakatan dengan NATO mengenai masa depan Greenland. “Pengumuman mengenai tarif Eropa mendorong pasar saham naik dan memberi tekanan pada logam mulia,” kata Bob Haberkorn, Senior Market Strategist RJO Futures.

Sepanjang 2025, harga emas sudah meroket 64 persen dan melonjak 11 persen sejak awal 2026, karena didorong perannya sebagai aset safe-haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global. Namun, sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan di AS, yakni hakim Mahkamah Agung dari kubu konservatif dan liberal menyatakan skeptis terhadap upaya Trump memberhentikan Gubernur Federal Reserve, Lisa Cook.

Mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan, The Fed akan mempertahankan suku bunga setidaknya hingga akhir kuartal ini, bahkan berpotensi hingga masa jabatan Chairman The Fed, Jerome Powell berakhir pada Mei 2026. Suku bunga acuan AS yang lebih rendah, umumnya mendukung harga emas, karena logam ini tidak memberikan imbal hasil.

Sementara itu, harga perak spot anjlok 3,6 persen menjadi USD91,17 per ons setelah sehari sebelumnya mencetak rekor USD95,87 per ons. “Pergerakan perak menuju level tiga digit sangat mungkin terjadi mengingat momentum harga saat ini. Namun tidak akan satu arah, karena koreksi dan volatilitas tetap berpotensi,” ujar analis ANZ, Soni Kumari. (*)

Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top