
RollingStock.ID – Harga emas dan minyak bergerak berlawanan di tengah penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil obligasi dan peningkatan ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan laporan Reuters di Bengaluru Selasa atau Rabu dini hari WIB, harga emas spot tercatat anjlok 2,2 persen menjadi USD4.712,04 per ons pada pukul 00.46 WIB alias menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan terakhir.
Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk kontrak Juni ditutup melorot 2,3 persen ke posisi USD4.719,60 per ons, seiring adanya tekanan dari penguatan dolar AS sebesar 0,2 persen terhadap mata uang utama lainnya.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turut mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe-haven. Analis RJO Futures, Bob Haberkorn menyebut kombinasi penguatan yield dan dolar menjadi faktor utama pelemahan harga logam mulia.
Pada sisi lain, ketegangan geopolitik meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump menegaskan tidak akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran dan menyatakan kesiapan militer jika negosiasi gagal, sehingga kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak mentah lebih dari 3 persen.
“Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup meningkat USD3 atau 3,1 persen menjadi USD98,48 per barel, sedangkan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak USD2,52 atau 2,8 persen ke USD92,13 per barel,” demikian laporan Reuters di New York
Kenaikan harga minyak sempat mencapai 5 persen sebelum terkoreksi setelah laporan bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance belum berangkat untuk memimpin delegasi negosiasi. Sementara itu, kekhawatiran pasar meningkat akibat hampir terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz.
Kepala Ekonom Trafigura, Saad Rahim memperingatkan potensi kehilangan pasokan besar dengan estimasi hingga satu miliar barel, bahkan bisa mencapai 1,5 miliar barel jika konflik berlangsung lebih lama. Tekanan ini juga memicu kekhawatiran inflasi global dan memperkecil peluang penurunan suku bunga.
Lonjakan harga energi sejak konflik akhir Februari 2026 memperburuk prospek ekonomi global termasuk di Eropa, karena sentimen investor Jerman menurun ke level terendah lebih dari tiga tahun. Pada sisi lain, Uni Eropa mulai menyiapkan langkah mitigasi terkait potensi gangguan pasokan bahan bakar.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati sidang konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon Chairman The Fed yang mengusulkan perubahan strategi pengendalian inflasi dan komunikasi kebijakan moneternya. Perkembangan ini berpotensi meningkatkan volatilitas pasar, sedangkan logam lain seperti perak mengalami penurunan 3,9 persen, platinum merosot 2,7 persen dan paladium terkoreksi 0,6 persen. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary
