Emiten Terafiliasi Low Tuck Kwong Ini Siap Garap Bisnis Angkutan Penumpang

trja
PT Transkon Jaya Tbk (TRJA) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – PT Transkon Jaya Tbk (TRJA) berencana menambah kegiatan usaha lini bisnis penunjang sektor angkutan darat penumpang. Sejauh ini bisnis utama perseroan di bidang penyewaan kendaraan operasional pertambangan batubara, nikel, emas, migas hingga konstruksi.

Berdasarkan keterangan TRJA yang diterbitkan di Jakarta, Selasa (14/4) emiten terafiliasi dengan konglomerat Low Tuck Kwong melalui PT Samindo Resources Tbk (MYOH) ini akan menambah tiga klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI), yaitu KBLI 49429, KBLI 49229 dan KBLI 49422.

Perlu diketahui KBLI 49429 merupakan klasifikasi usaha di bidang angkutan darat lainnya untuk penumpang, KBLI 49229 bidang angkutan bus tidak dalam trayek dan KBLI 49422 bidang angkutan sewa. Penambahan ini akan menjadi bagian kegiatan usaha penunjang untuk melengkapi kegiatan utama perseroan di bidang penyewaan kendaraan.

Manajemen TRJA menjelaskan, aktivitas terkait angkutan karyawan dan transportasi penumpang sebenarnya sudah berjalan, khususnya untuk klien di sektor pertambangan, minyak dan gas, konstruksi maupun perkebunan. Namun, kegiatan tersebut belum didukung klasifikasi KBLI secara spesifik. Maka, penambahan KBLI tersebut untuk menyelaraskan kegiatan secara legal.

Lebih lanjut menajemen menegaskan, rencana perubahan kegiatan usaha tersebut tidak memerlukan tambahan modal dan tidak termasuk dalam kategori transaksi material sebagaimana diatur dalam POJK 17/2020, mengingat sifatnya masih dalam lingkup usaha jasa yang selama ini dijalankan TRJA.

Berdasarkan laporan studi independen KJPP Ihot, Dollar & Raymond, rencana penambahan kegiatan usaha dinyatakan layak untuk dilaksanakan. Hasil analisis menunjukkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp95,67 miliar, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 26,5 persen dan Profitability Index (PI) sebesar 3,16.

Perseroan juga menyusun proyeksi keuangan selama lima tahun (2026–2030), dengan asumsi pertumbuhan pendapatan dari jasa angkutan penumpang dan sewa kendaraan, serta penambahan armada secara bertahap sebagai bagian dari belanja modal. Selain itu, asumsi operasional mencakup biaya pengemudi, pemeliharaan kendaraan, dan penyusutan.

Perlu diketahui, rencana penambahan kegiatan usaha ini akan dimintakan persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 20 Mei 2026. TRJA menargetkan bisa memperkuat posisi sebagai penyedia layanan transportasi terintegrasi, sekaligus meningkatkan kepastian hukum atas kegiatan operasional yang telah berjalan dan memperluas peluang pertumbuhan. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top