
RollingStock.ID – Produk investasi ETF spot Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat menghadapi tekanan serius, setelah mengalami arus dana keluar secara berkelanjutan. Modal investor bergerak menjauh —tidak lagi menopang pasar kripto— dan justru mengalir ke saham internasional yang dinilai lebih menjanjikan.
Berdasarkan laporan laman Be(in) Crypto yang dikutip Senin (16/2), pada akhir pekan lalu perubahan tersebut terjadi secara bersamaan dengan kenaikan imbal hasil US Treasury, pasar tenaga kerja AS yang tetap kuat, serta rekor arus masuk ke instrumen saham global di luar AS. Kombinasi sentimen ini mempersempit ruang bagi aset berisiko tinggi seperti kripto untuk mempertahankan minat investor.
Beberapa pekan terakhir, ETF spot Bitcoin di AS berbalik ke posisi arus keluar bersih yang kuat. Total asetnya merosot dari puncak sebesar USD115 miliar menjadi USD83 miliar. Penurunan ini mencerminkan keluarnya dana dalam skala besar, bukan sekadar fluktuasi jangka pendek. Bahkan, ETF Ethereum mencatatkan kontraksi lebih dalam, dengan aset menurun dari USD18 miliar menjadi mendekati USD11 miliar.

Sepanjang 2026, kedua ETF kripto tersebut baru mencatatkan dua pekan arus masuk positif, sebuah catatan yang menunjukkan lemahnya permintaan baru. “Ini bukan sekadar volatilitas acak, melainkan mencerminkan keluarnya modal dari kelas aset tersebut,” tulis Be(in) Crypto.
Pada saat yang sama, ETF saham internasional justru mencatat arus masuk terkuat dalam beberapa tahun terakhir, menegaskan bahwa dana yang keluar dari kripto tidak menghilang, melainkan berpindah ke ETF saham.
Data menunjukkan alokasi ke dana global di luar AS mencapai rekor pada Januari 2026, menyerap sepertiga total arus masuk ETF, meski porsi asetnya jauh lebih kecil secara keseluruhan. Fenomena ini menandakan adanya rotasi besar yang semakin jelas, investor institusi mengurangi eksposur terhadap perdagangan saham AS, termasuk kripto dan mengalihkan dana ke pasar luar negeri. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
