
RollingStock.ID – Harga minyak dunia mengalami koreksi tajam hingga menembus kembali level psikologis USD100 per barel, seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz usai tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan laporan Reuters di New York, pada perdagangan Rabu (8/4) atau Kamis (9/4) pagi WIB, minyak mentah Brent sebagai acuan global ditutup anjlok sebesar USD14,52 atau 13,29 persen menjadi USD94,75 per barel di New York. Sementara itu, WTI mencatat penurunan lebih dalam hingga USD18,54 atau 16,41 persen ke posisi USD94,41 per barel.
Penurunan harga tersebut dipicu optimisme pelaku pasar terhadap potensi normalisasi jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz, yang selama ini menjadi choke point strategis dengan kontribusi sebesar 20% terhadap total pasokan minyak dunia. Harapan kembalinya arus suplai secara penuh langsung menekan premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga.
Pelaku industri menilai, respons pasar mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap perkembangan geopolitik. Andrew Lipow dari Lipow Oil Associates menegaskan, ekspektasi peningkatan suplai menjadi katalis utama koreksi harga, meskipun dia mengingatkan bahwa keberlanjutan gencatan senjata masih menyisakan ketidakpastian yang dapat memicu volatilitas lanjutan.
Kesepakatan gencatan senjata dua pekan tersebut dicapai menjelang tenggat ultimatum yang diberikan Presiden AS, Donald Trump kepada Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. Dalam pernyataannya kepada PBS News, Trump menyatakan, kesepakatan ini tidak mencakup dinamika konflik di Lebanon, sekaligus membuka peluang kerjasama ekonomi terbatas dengan Iran, termasuk potensi pelonggaran sanksi.
Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa stabilitas kawasan belum sepenuhnya pulih. Aktivitas militer di Timur Tengah tetap berlangsung, termasuk serangan di Lebanon dan laporan pelanggaran wilayah udara Iran. Selain itu, ancaman terhadap kapal yang melintas tanpa izin di Selat Hormuz menunjukkan bahwa jalur tersebut belum sepenuhnya aman bagi aktivitas pelayaran komersial.
Secara jangka pendek, arah harga minyak akan sangat ditentukan realisasi pembukaan Selat Hormuz dan kepastian distribusi energi global. Sejumlah analis memperkirakan, harga masih akan bertahan di atas level pra-konflik hingga terdapat konfirmasi pemulihan suplai secara konsisten. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary
