
RollingSTock.ID – Saat ini industri telekomunikasi menghadapi perlambatan pertumbuhan akibat kejenuhan pasar dan munculnya berbagai alternatif teknologi, sebelumnya selama puluhan tahun mengandalkan pendapatan dari layanan konektivitas.
Pernyataan tersebut seperti disampaikan Direktur Utama PT Indosat Tbk (ISAT), Vikram Sinha dalam wawancaranya dengan The Business Times di Jakarta yang dikutip Jumat (9/1). Dia menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari peluang besar yang terlewatkan operator telko saat lahirnya ekonomi aplikasi pada akhir tahun 2000-an.
“Kami di telko kehilangan peluang itu. Kami terlalu fokus ke dalam,” ujar Sinha merujuk pada momen peluncuran iPhone pada 2007 dan App Store pada 2008 yang kemudian melahirkan ekonomi aplikasi bernilai puluhan miliar dolar AS.
Berdasarkan data Sensor Tower, pendapatan global dari pembelian dalam aplikasi non-gim mencapai USD69,2 miliar tahun lalu, melonjak hampir 20 kali lipat dibandingkan 2014. Meski didominasi negara maju, pasar berkembang termasuk Indonesia menunjukkan pertumbuhan stabil.
Menurut Sinha, peluang baru kini hadir melalui kecerdasan buatan (AI). “Bisnis inti kami adalah konektivitas. Konektivitas yang dipadukan dengan komputasi —yakni kecerdasan— dan disampaikan di edge secara berdaulat adalah kebutuhan saat ini,” ungkapnya.
Sejak menjabat CEO pada Januari 2022, Sinha mendorong transformasi ISAT dari perusahaan telekomunikasi menjadi techco. Salah satu langkah strategisnya, pemisahan aset serat optik ke entitas FiberCo pada Desember 2025 dengan valuasi Rp14,6 triliun. “Transaksi ini menyediakan dana untuk investasi penting, termasuk 5G dan fondasi bagi dorongan AI Indosat,” ucapnya.
Selain itu, ISAT juga mengarahkan strategi pada pengembangan sovereign AI, seiring meningkatnya kebutuhan kedaulatan data nasional. Dengan lebih dari 55.000 BTS, Sinha menilai, operator telko domestik berada pada posisi strategis. “Kami bisa melakukannya di edge karena kami memiliki 55.000 BTS,” tegas Sinha.
Pada November 2025, ISAT mengumumkan kolaborasi dengan Nokia dan Nvidia untuk membangun AI Grid yang mengintegrasikan jaringan Indosat, pusat data AI berbasis GPU Nvidia dan pemrosesan edge guna menurunkan latensi. Perseroan mulai menjalankan bisnis GPU-as-a-service sejak Oktober 2025 dan melayani lebih dari 22 perusahaan domestik. Pendapatan AI pada 2025 diproyeksikan mencapai hingga USD35 juta.
Langkah diversifikasi tersebut dilakukan di tengah tekanan bisnis seluler. Pendapatan seluler ISAT pada Kuartal III-2025 sebesar Rp34,56 triliun atau menurun 2 persen (year-on-year). Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Etta Rusdiana Putra beranggapan, strategi GPU memungkinkan ISAT memonetisasi kelangkaan server AI dengan belanja modal lebih rendah dibandingkan pembangunan pusat data penuh.
Pada segmen konsumen, ISAT juga menggandeng GOTO untuk mengembangkan Sahabat AI, model bahasa besar berbasis Bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa daerah. Seluruh inisiatif tersebut, menurut Sinha, mengarah pada tujuan jangka panjang perusahaan. “Tiga pilarnya adalah menjadi AI-native telco, membangun techco berbasis AI cloud dan keamanan, serta Sahabat AI. Semua ini membantu kami kembali mendekati pertumbuhan dua digit pada bisnis inti,” tegasnya. (*)
