
RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama tahun ini, PT RMK Energy Tbk (RMKE) mencatatkan lonjakan pendapatan hingga 142,1 persen, namun kinerja keuangan secara umum dibayangi tekanan fundamental terkait peningkatan utang dan arus kas dari operasi yang anjlok.
Berdasarkan laporan keuangan RMKE untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, emiten pertambangan batubara di bawah kendali PT RMK Investama ini membukukan pendapatan Rp815,59 miliar atau melonjak 142,1 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 sebesar Rp336,85 miliar.
Di tengah peningkatan kinerja pada area top line tersebut, beban pokok pendapatan RMKE tercatat membengkak 183,2 persen (year-on-year) menjadi Rp714,42 miliar, sehingga laba bruto di Kuartal I-2026 menjadi Rp101,17 miliar atau bertumbuh 19,6 persen dibandingkan Kuartal I-2025 senilai Rp84,61 miliar.
Pada periode Januari-Maret 2026, emiten yang sahamnya dimiliki PT Cipta Investa Indonesia, PT Global Multi Investasi dan PT Artha Dana Indonesia ini mencatatkan laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp71,69 miliar atau mengalami kenaikan 9,4 persen dibandingkan dengan laba sebelum pajak penghasilan di periode Januari-Maret 2025 yang sebesar Rp65,53 miliar.
Dengan adanya beban pajak penghasilan di 1Q26 sebesar Rp15,96 miliar, maka laba periode berjalan yang dicatatkan RMKE menjadi Rp55,73 miliar atau meningkat 8,2 persen (y-o-y). Adapun besaran laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk di Kuartal I-2026 sebesar Rp55,44 miliar atau naik 5,6 persen dibandingkan laba bersih Kuartal I-2025 senilai Rp52,51 miliar.
Dari sisi balance sheet, jumlah ekuitas RMKE per 31 Maret 2026 tercatat Rp1,97 triliun atau meningkat tipis 0,6 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp1,96 triliun. Hingga akhir Kuartal I-2026, total liabilitas mencapai Rp1,44 triliun atau membengkak 63 persen (year-to-date).
Per 31 maret 2026, total aset emiten milik PT Asa Kapital Sejahtera dan PT Mitra Investasi Gemilang ini sebesar Rp3,41 triliun atau mengalami kenaikan 20 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas sebesar Rp715,96 miliar alias melonjak 177,7 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 senilai Rp257,85 miliar.
Apabila mengacu pada cash flow di periode Januari-Maret 2026, lonjakan kas emiten milik PT Alpha Investasi Asia dan PT Bina Buana Kapital tersebut terutama disebabkan adanya arus kas bersih yang didapat dari aktivitas pendanaan Rp559,39 miliar, seiring penerimaan dana dari penerbitan surat utang mencapai Rp600 miliar.
Di tengah pertumbuhan pendapatan maupun laba di Kuartal I-2026, emiten yang sahamnya dimiliki investor individu Tony Saputra ini justru hanya meraup arus kas bersih dari aktivitas operasi senilai Rp52,39 miliar atau anjlok 48,5 persen dibandingkan dengan perolehan di Kuartal I-2025 sebesar Rp101,72 miliar. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
