Laba Bersih HRUM di 1H26 Naik 22,6%, Tapi Arus Kas Operasi Berbalik Negatif

RollingStock.ID – PT Harum Energy Tbk (HRUM) membukukan lonjakan laba tahun berjalan mencapai 237,1 persen pada Semester I 2026, namun laba yang bisa diatribusikan ke pemilik entitas induk cuma meningkat 22,6 persen. Pada periode yang sama, arus kas dari aktivitas operasi justru berbalik negatif menjadi USD65,96 juta.
Berdasarkan laporan keuangan HRUM untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, laba tahun berjalan HRUM mencapai USD129,31 juta atau melonjak 237,1 persen dibandingkan dengan Semester I-2025 yang senilai USD38,36 juta. Namun, capaian ini berbeda jauh dengan laba yang bisa diatribusikan ke pemilik entitas induk.
Pada laporan keuangan HRUM di Semester I-2026 tercatat bahwa laba yang menjadi hak pemegang saham induk hanya sebesar USD36,5 juta alias meningkat 22,6 persen dibandingkan dengan laba bersih di Semester I-2025 senilai USD29,76 juta.
Perbedaan itu terutama berasal dari melonjaknya laba yang menjadi bagian kepentingan nonpengendali (KNP). Pada paruh pertama tahun ini, laba yang diatribusikan kepada KNP mencapai USD92,81 juta atau meroket 980,4 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 senilai USD8,59 juta.
Kondisi tersebut berkaitan dengan kepemilikan nonpengendali pada sejumlah entitas anak HRUM. Per 30 Juni 2026, total KNP atas aset neto entitas anak mencapai USD985,52 juta atau bertumbuh 10,3 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar USD893,15 juta.
Dari sisi cash flow di periode Januari-Juni 2026, kinerja HRUM menunjukkan perkembangan yang berlawanan dengan kinerja di area bottom line pada income statement perseroan. Perseroan mencatatkan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi mencapai USD65,96 juta di Semester I 2026, berbalik dari kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi sebesar USD88,95 juta pada Semester I-2025.
Kondisi tersebut mencerminkan bahwa secara nominal terjadi pemburukan arus kas operasi mencapai USD154,91 juta. Hal ini terutama dipengaruhi pembayaran kepada pemasok dan beban lainnya yang membengkak 50,3 persen menjadi USD858,23 juta dari sebelumnya USD570,84 juta.
Tekanan arus kas tersebut juga tercermin dari kas dan setara kas HRUM per 30 Juni 2026 yang tercatat USD144,94 juta atau mengalami penurunan 2,6 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar USD148,82 juta.
Per 30 Juni 2026, total aset HRUM mencapai USD3,83 miliar atau meningkat 11,4 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 yang sebesar USD3,44 miliar. Persediaan perseroan hingga akhir Semester I-2026 tercatat meningkat 74,4 persen (y-t-d) menjadi USD294,22 juta, terutama berasal dari produk nikel, barang dalam proses, serta bahan pembantu dan suku cadang.
Pada akhir Semester I-2026, total liabilitas emiten di bawah kendalai PT Karunia Bara Perkasa ini tercatat membengkak 16,3 persen (y-t-d) menjadi USD1,88 miliar. Sementara itu, total ekuitas per 30 Juni 2026 sebesar USD1,95 miliar alias bertumbuh 7 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai USD1,82 miliar.
Untuk kinerja income statement di Semester I-2026, HRUM juga mengalami tekanan pembiayaan, tercermin dari beban keuangan yang membengkak 174,6 persen menjadi USD42,09 juta dari senilai USD15,33 juta pada Semester I-2025. Di dalamnya, ada beban bunga pinjaman yang melonjak 236 persen (y-o-y) menjadi USD39,68 juta. Sementara itu, penghasilan keuangan justru relatif tidak banyak berubah, yakni dari USD4,56 juta menjadi USD4,63 juta.
Pada laporan keuangan HRUM menunjukkan bahwa perseroan mencatatkan utang kepada pemegang saham nonpengendali entitas anak berasal antara lain dari PT Bumi Sarana Energi (BSE) dan PT Nickel Cobalt Asia (NICAP). BSE memiliki fasilitas pinjaman dari Tanjung Development Investment Pte Ltd yang telah digunakan sebesar USD530,38 juta, dengan utang bunga USD29,05 juta. Fasilitas ini memiliki bunga SOFR + 2,7 persen per tahun.
Adapun NICAP memiliki fasilitas pinjaman dari Ever Rising Limited yang telah digunakan sebesar USD45,39 juta, dengan utang bunga USD498.124 dan tingkat bunga SOFR + 2,6 persen per tahun. SOFR (Secured Overnight Financing Rate) merupakan suku bunga acuan pasar pendanaan overnight berbasis transaksi repo surat berharga pemerintah Amerika Serikat. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary