
RollingStock.ID – Selama enam bulan pertama tahun ini, PT United Tractors Tbk (UNTR) hanya membukukan laba bersih Rp956,28 miliar atau ambles 88,24 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 sebesar Rp8,13 triliun. Penurunan ini terjadi seiring dengan pelemahan omzet, peningkatan beban operasional, serta munculnya kerugian penurunan nilai (impairment) investasi dan piutang sebesar Rp2,76 triliun.
Mengutip laporan keuangan UNTR untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini membukukan pendapatan bersih Rp58,29 triliun alias melorot 14,94 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 mencapai Rp68,53 triliun. Penurunan omzet ini terutama dipicu melemahnya penjualan barang, khususnya penjualan alat berat kepada pihak ketiga yang anjlok 30,86 persen (y-o-y) menjadi Rp12,87 triliun, serta penjualan emas dan mineral lainnya yang nyungsep 66,25 persen (y-o-y) menjadi Rp2,36 triliun.
Kejatuhan kinerja di area top line tersebut membuat laba bruto UNTR di 1H26 melorot 29,98 persen menjadi Rp10,51 triliun dari Rp15,01 triliun pada 1H25. Di saat yang sama, beban penjualan justru membengkak 77,24 persen (y-o-y) menjadi Rp858,42 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi melonjak 37,44 persen (y-o-y) menjadi Rp3,92 triliun, sehingga semakin menekan profitabilitas United Tractors di Semester I 2026.
Tekanan terbesar terhadap laba berasal dari perubahan drastis pada pos beban lain-lain. Jika pada Semester I-2025 UNTR masih bisa mencatat penghasilan lain-lain (neto) sebesar Rp755,92 miliar, pada Semester I-2026 pos tersebut berbalik menjadi beban lain-lain (neto) mencapai Rp3,02 triliun. Perubahan negatif sekitar Rp3,77 triliun tersebut terutama dipicu oleh kerugian penurunan nilai investasi pada ventura bersama sebesar Rp1,48 triliun dan kerugian penurunan nilai piutang non-usaha senilai Rp1,28 triliun.
Mengacu pada catatan laporan keuangan UNTR, manajemen perseroan menjelaskan bahwa penurunan nilai investasi ventura bersama dilakukan setelah Grup mengidentifikasi adanya beberapa masalah operasional pada investasi di PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD). Berdasarkan hasil pengujian penurunan nilai menggunakan metode discounted cash flow (DCF), UNTR kemudian mengakui kerugian penurunan nilai atas investasi tersebut.
Pelemahan kinerja UNTR turut membebani kinerja induk usahanya, PT Astra International Tbk (ASII). Selama enam bulan pertama 2026, ASII membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp12,53 triliun alias melorot 19,22 persen dibandingkan Semester I-2025 yang mencapai Rp15,52 triliun. Penurunan laba bersih ini terutama dipicu oleh pengakuan kerugian penurunan nilai investasi pada ventura bersama sebesar Rp1,48 triliun, yang menjadi komponen terbesar pada pos penghasilan/beban lain-lain (neto).
Tekanan terhadap kinerja UNTR juga terjadi pada sisi arus kas, tercermin dari arus kas bersih dari aktivitas operasi di periode Januari-Juni 2026 tersungkur hingga 75,82 persen menjadi Rp2,75 triliun dari Rp11,36 triliun pada Semester I-2025. Sementara itu, arus kas aktivitas investasi membengkak menjadi negatif Rp12,39 triliun alias melambung 129,39 persen dibanding arus kas keluar sebesar Rp5,4 triliun pada Semester I-2025, terutama dipengaruhi akuisisi entitas anak sebesar Rp9,09 triliun dan belanja aset tetap senilai Rp3,18 triliun.
Kondisi tersebut tentunya menggerus posisi kas dan setara kas per 30 Juni 2026 yang melorot 29,8 persen menjadi Rp18,65 triliun dari posisi per 31 Desember 2025 yang mencapai Rp26,57 triliun.
Pada sisi lain, beban utang meningkat yang tercermin dari bagian jangka pendek pinjaman bank per 30 Juni 2026 melonjak 46,09 persen (year-to-date) menjadi Rp14,14 triliun, sedangkan pinjaman bank jangka panjang membengkak 64,69 persen (y-t-d) menjadi Rp9,97 triliun. Secara keseluruhan, total utang bank yang dicatatkan UNTR hingga akhir Semester I-2026 melambung 53,23 persen menjadi Rp24,12 triliun dari Rp15,74 triliun per 31 Desember 2025.
Meski total aset per 30 Juni 2026 tercatat bertumbuh 0,8 persen (y-t-d) menjadi Rp179,06 triliun, namun total ekuitas anak usaha ASII ini justru menurun 1,34 persen (y-t-d) menjadi Rp101,75 triliun. Adapun saldo laba yang belum dicadangkan per 30 Juni 2026 juga berkurang 3,45 persen menjadi Rp82,60 triliun dari Rp85,55 triliun per 31 Desember 2025, mencerminkan berkurangnya akumulasi laba UNTR setelah pembagian dividen dan penurunan kinerja selama enam bulan pertama tahun ini. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
