
RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama tahun ini, PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) menderita rugi bersih Rp555 juta atau menyusut 71,6 persen (year-on-year), sehingga per 31 Maret 2026 defisit perseroan meningkat menjadi Rp12,66 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan GPSO untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, emiten di bawah kendali PT PIMSF Pulogadung ini hanya mampu membukukan pejualan Rp466,88 juta atau ambles 50,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 sebesar Rp949,17 juta.
Sejalan dengan kinerja negatif pada area top line tersebut, beban pokok penjualan juga ikut menurun 63,6 persen (y-o-y) menjadi Rp155,53 juta. Dengan demikian, laba bruto GPSO di Kuartal I-2026 menjadi Rp311,35 juta atau anjlok 40,4 persen dibandingkan pada Kuartal I-2025 sebesar Rp522,03 juta.
Pada periode Januari-Maret 2026, jumlah beban usaha tercatat 63,5 persen (y-o-y) menjadi Rp861,66 juta, sehingga GPSO mencatatkan rugi operasi Rp550,31 juta atau lebih rendah 70,1 persen dibandingkan rugi operasi di periode Januari-Maret 2025 yang sebesar Rp1,84 miliar.
Selama tiga bulan pertama di 2026, emiten milik PT Triple Berkah Bersama dan PT Konsultama Sukses Indonesia ini mencatatkan rugi sebelum pajak penghasilan senilai Rp555 juta alias mengalami penurunan dibandingkan dengan rugi sebelum pajak penghasilan di periode yang sama 2025 mencapai Rp1,95 miliar.
Sepanjang kuartal pertama tahun ini, emiten yang sahamnya dimiliki investor individu Jaka Lesmana, Agustin Widyawati dan Hendra Wijaya ini tidak mencatatkan beban maupun pajak penghasilan, sehingga rugi tahun berjalan juga tercatat Rp555 juta menyusut dibandingkan dengan Kuartal I-2025 yang sebesar Rp1,95 miliar.
Akibat adanya rugi bersih Rp555 juta tersebut, maka per 31 Maret 2026 perseroan menderita defisit saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya mencapai Rp12,66 miliar atau membengkak dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp12,1 miliar.
Per 31 Maret 2026, jumlah ekuitas perusahaan yang sahamnya dimiliki PT Subur Anugerah Sentosa ini tercatat senilai Rp42,12 miliar atau mengalami penurunan 1,3 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar Rp42,67 miliar. Hingga akhir Kuartal I-2026, total liabilitas sebesar Rp5,34 miliar atau bisa ditekan 14,2 persen (year-to-date).
Pada akhir Maret 2026, total aset perseroan sebesar Rp47,46 miliar alias mengalami penurunan 2,9 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan bank tersisa Rp127,96 juta atau nyungsep 84,7 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp833,69 juta.
Apabila mengacu pada cash flow di periode Januari-Maret 2026, penurunan kas tersebut terutama disebabkan adanya arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi mencapai Rp1,07 miliar, padahal di periode Januari-Maret 2026 bisa mencatatkan arus kas bersih yang didapat dari aktivitas operasi Rp1,89 miliar. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
