
RollingStock.ID – Sepanjang 2025, PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) hanya membukukan laba bersih Rp4,28 miliar atau ambles 87,1 persen (year-on-year) di tengah perolehan arus kas bersih operasi yang anjlok 53,5 persen (y-o-y) menjadi Rp2,65 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan COAL untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, emiten di bawah kendali Sujaka Lays ini mencatatkan penjualan sebesar Rp423,84 miliar atau bertumbuh 4,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2024 sebesar Rp406,2 miliar.
Di tengah pertumbuhan moderat di area top line tersebut, beban pokok penjualan yang dicatatkan emiten pertamabangan batubara milik PT Seluas Lautan Indonesia ini justru membengkak 8,5 persen (y-o-y) menjadi Rp392,82 miliar, sehingga laba bruto Tahun Buku 2025 menjadi Rp30,92 miliar atau melorot 30,1 persen (y-o-y).
Pada periode Januari-Desember 2025, emiten milik investor individu Arie Rinaldi dan Herry Sen ini membukukan laba sebelum pajak penghasilan senilai Rp8,4 miliar atau tersungkur 75,6 persen dibandingkan dengan perolehan laba sebelum pajak penghasilan di periode Januari-Desember 2024 yang sebesar Rp34,44 miliar.
Dengan adanya beban pajak penghasilan (neto) di Tahun Buku 2025 sebesar Rp4,11 miliar, maka laba neto tahun berjalan yang dicatatkan COAL menjadi Rp4,3 miliar atau terjerembab 87 persen (y-o-y). Adapun besaran laba yang bisa diatribusikan ke pemilik entitas induk di 2025 senilai Rp4,28 miliar alias ambles 87,1 persen dibandingkan laba bersih 2024 sebesar Rp33,15 miliar.
Dari sisi neraca, ekuitas COAL per 31 Desember 2025 tercatat Rp362,7 miliar atau naik tipis 0,3 persen dibandingkan per 31 Desember 2024 senilai Rp361,44 miliar. Hingga akhir 2025, total liabilitas mencapai Rp440,37 miliar atau bisa ditekan 1,3 persen (y-o-y), namun masih didominasi kewajiban jangka pendek Rp424,63 miliar.
Per 31 Desember 2025, total aset emiten yang sahamnya juga dimiliki investor individu Yudi Setiawan dan Christ Soenoto ini sebesar Rp803,06 miliar atau menurun 0,6 persen (y-o-y), dengan jumlah kas dan bank mencapai Rp14,29 miliar alias melonjak 53,4 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2024 senilai Rp9,32 miliar.
Apabila mengacu pada cash flow di periode Januari-Desember 2025, lonjakan kas tersebut terutama didorong arus kas bersih yang didapat dari aktivitas pendanaan sebesar Rp42,27 miliar, dengan kontribusi terbesar dari penerimaan utang bank jangka pendek yang mencapai Rp65 miliar.
Namun di sisi lain, COAL justru mencatatkan penurunan signifikan pada arus kas bersih yang didapat dari aktivitas operasi menjadi Rp2,65 miliar alias anjlok 53,5 persen (y-o-y). Sementara itu di sepanjang 2025, terdapat arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi sebesar Rp27,39 miliar. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary
