
RollingStock.ID – Selama enam bulan pertama tahun ini, laba bersih PT Ciputra Development Tbk (CTRA) merosot 11,9 persen, seiring dengan melemahnya pendapatan, penurunan laba usaha, peningkatan beban operasional hingga menyusutnya pendapatan keuangan. Pada sisi lain, posisi kas juga menurun dan arus kas pendanaan memburuk akibat pelunasan utang berjumlah besar.
Berdasarkan laporan keuangan CTRA untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, emiten di bawah kendali PT Sang Pelopor ini hanya membukukan laba bersih Rp1,1 triliun atau merosot 11,19 persen dibandingkan Semester I-2025 sebesar Rp1,24 triliun. Penurunan ini terjadi seiring melemahnya pendapatan di 1H26 sebesar 11,69 persen menjadi Rp5,19 triliun dari Rp5,88 triliun pada 1H25.
Kinerja di area top line yang melemah tersebut memicu penurunan laba bruto di Semester I-2026 sebesar 10,65 persen menjadi Rp2,5 triliun dari Rp2,8 triliun pada Semeseter I-2025. Pada saat yang sama, beban umum dan administrasi justru membengkak 7,47 persen (y-o-y) menjadi Rp855,71 miliar, meskipun beban penjualan bisa ditekan 10,38 persen (y-o-y) menjadi Rp229,6 miliar.
Kondisi itu tersebut menyebabkan laba usaha di Semester I-2026 menurun lebih dalam, yakni sebesar 17,05 persen menjadi Rp1,51 triliun dibandingkan Semester I-2025 senilai Rp1,82 triliun. Tekanan terhadap kinerja juga berasal dari penurunan kontribusi pendapatan di luar operasional, seperti bagian laba entitas asosiasi di 1H26 merosot 12,71 persen (y-o-y) menjadi Rp31,57 miliar, sedangkan penghasilan keuangan (neto) melorot 33,88 persen (y-o-y) menjadi Rp165,27 miliar.
Walaupun beban keuangan di paruh pertama 2026 bisa ditekan 34,66 persen (y-o-y) menjadi Rp398,61 miliar, laba sebelum pajak final dan pajak penghasilan tetap menurun 12,56 persen (y-o-y) menjadi Rp1,31 triliun. Setelah memperhitungkan pajak final dan pajak penghasilan, laba periode berjalan CTRA di 1H25 tercatat Rp1,16 triliun alias melorot 12,44 persen dibandingkan Rp1,32 triliun pada 1H25.
Pada sisi balance sheet, total aset CTRA per 30 Juni 2026 tercatat Rp46,62 triliun atau menurun 2,84 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 yang mencapai Rp47,99 triliun. Penurunan aset ini terutama dipengaruhi penyusutan kas dan setara kas sebesar 16,98 persen menjadi Rp8,6 triliun dari Rp10,36 triliun.
Pada periode Januari-Juni 2026, CTRA membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp807,69 miliar atau meningkat 9,35 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 senilai Rp738,61 miliar. Namun, arus kas bersih dari aktivitas investasi memburuk menjadi negatif Rp673,6 miliar dari negatif Rp547,56 miliar atau meningkat 23,11 persen dalam nilai arus kas keluar.
Sementara itu, arus kas dari aktivitas pendanaan pada Semester I-2026 juga melonjak menjadi negatif Rp1,9 triliun dibandingkan negatif Rp189,9 miliar pada Semester I-2025, terutama dipicu pelunasan wesel bayar sebesar Rp1,94 triliun dan pembayaran utang bank.
Hingga akhir Semester I-2026, total liabilitas perseroan bisa ditekan sebesar 8,65 persen (y-t-d) menjadi Rp19,25 triliun, namun masih didominasi kewajiban jangka pendek sebesar Rp11,21 triliun. Adapun total ekuitas CTRA per 30 Juni 2026 tercatat bertumbuh 1,7 persen menjadi Rp27,38 triliun dari Rp26,92 triliun pada 31 Desember 2025. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
