Penerbitan Surat Utang Korporasi di 2026 Diprediksi Capai Rp196,86 Triliun

Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan, nilai penerbitan surat utang korporasi pada Semester II-2026 akan tetap terjaga, dengan total penerbitan baru di sepanjang tahun ini sekitar Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun.

Berdasarkan laporan Pefindo yang dikutip Sabtu (11/7), hingga akhir Juni 2026 nilai realisasi penerbitan surat telah mencapai Rp87,35 triliun atau mengalami penurunan 3,91 persen dibandingkan dengan periode Januari-Juni 2025 yang mencapai Rp90,9 triliun. Pefindo meyakini bahwa kebutuhan refinancing akan menjadi pendorong utama aktivitas penerbitan surat utang pada paruh kedua tahun ini.

Menurut Direktur Pefindo, Hendro Utomo, total penerbitan baru surat utang korporasi di sepanjang 2026 akan berada pada kisaran Rp154,00 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan titik tengah sebesar Rp175,77 triliun. “Kebutuhan refinancing masih besar, karena jatuh tempo EBUS Semester II-2026 mencapai Rp107,51 triliun,” ungkap Hendro.

Dia menyampaikan, nilai jatuh tempo tersebut akan memicu banyak emiten untuk kembali mengakses pasar obligasi dalam memenuhi kebutuhan pendanaan. Selain kebutuhan refinancing, prospek penerbitan juga didukung oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang tetap stabil, seiring kebijakan fiskal yang ekspansif dan kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Dari sisi permintaan, ujar Hendro, Pefindo beranggapan bahwa minat investor terhadap surat utang korporasi tetap kuat, karena instrumen ini menjadi alternatif imbal hasil di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham. Kendati demikian, dia mengatakan, terdapat sejumlah tantangan yang berpotensi membatasi laju penerbitan pada Semester II-2026.

Hendro menyatakan, risiko geopolitik global dan sikap hawkish di pasar Amerika Serikat diperkirakan dapat meningkatkan volatilitas pasar dan mendorong kenaikan yield acuan. Selain itu biaya pendanaan bagi emiten akan meningkat, karena tingginya yield akibat kenaikan suku bunga, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, meningkatnya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan persaingan dengan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Lebih lanjut Hendro menilai, saat ini investor semakin selektif dengan lebih memprioritaskan surat utang berperingkat A ke atas, sehingga peluang penerbitan dari emiten dengan peringkat lebih rendah masih relatif terbatas. Pada sisi lain, kupon surat utang bagi emiten dengan peringkat single A ke bawah dinilai kurang kompetitif dibandingkan pembiayaan melalui kredit perbankan.

Sebagai indikator pipeline penerbitan, hingga 30 Juni 2026 Pefindo sudah menerima mandat pemeringkatan dari 43 perusahaan dengan total rencana penerbitan mencapai Rp50,82 triliun. Sektor pertambangan menjadi kontributor terbesar dengan rencana penerbitan sebesar Rp6,30 triliun, diikuti perbankan Rp5,03 triliun, perusahaan induk Rp5 triliun dan pembiayaan konsumtif-otomotif Rp4,50 triliun.

Dari sisi jenis instrumen, rencana penerbitan tetap didominasi Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi mencapai Rp20,38 triliun, disusul obligasi sebesar Rp13,14 triliun, PUB sukuk sebesar Rp7,77 triliun, sukuk senilai Rp4,52 triliun, medium term notes (MTN) senilai Rp2,79 triliun, sekuritisasi Rp2 triliun dan surat berharga perpetual Rp220 miliar. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top